
KADAR C-REACTIVE PROTEIN, D-DIMER, DAN LAKTAT DEHIDROGENASE SEBAGAI PREDIKTOR LUARAN COVID-19 PADA ANAK: SEBUAH KAJIAN SISTEMATIS
Author(s) -
Macmilliac Lam,
Laureen Celcilia
Publication year - 2021
Publication title -
jimki: jurnal ilmiah mahasiswa kedokteran indonesia/jurnal ilmiah mahasiswa kedokteran indonesia
Language(s) - Slovenian
Resource type - Journals
eISSN - 2721-1924
pISSN - 2302-6391
DOI - 10.53366/jimki.v9i2.446
Subject(s) - medicine , covid-19 , c reactive protein , gynecology , humanities , disease , inflammation , infectious disease (medical specialty) , philosophy
Pendahuluan: Coronavirus Disease (COVID-19) merupakan penyakit infeksius akibat virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Di tengah lonjakan kasus COVID-19, Indonesia memiliki tingkat kematian anak akibat COVID-19 yang tertinggi di dunia. Hingga saat ini, belum banyak studi yang menjelaskan karakteristik laboratorium COVID-19 pada anak. Kajian sistematis ini bertujuan untuk menilai signifikansi dari temuan laboratorium, khususnya c-reactive protein (CRP), D-dimer, dan laktat dehidrogenase (LDH), untuk memprediksi keparahan COVID-19 pada anak.
Metode: Kajian sistematis dilakukan melalui PubMed, Scopus, Cochrane, dan Google Scholars untuk mencari studi yang meninjau nilai prognosis dari c-reactive protein (CRP), D-dimer, dan laktat dehidrogenase (LDH) pada anak dengan COVID-19. Penilaian kualitas studi dilakukan dengan instrumen Newcastle-Ottawa Scale.
Pembahasan: Kajian sistematis ini meninjau 11 studi dengan total 3424 subjek. Kadar c-reactive protein (CRP) meningkat secara signifikan pada pasien anak dengan COVID-19 berat/kritis. Selain itu, anak-anak dengan komplikasi memiliki tingkat c-reactive protein(CRP) dan D-dimer yang lebih tinggi.
Simpulan: Sebagai kesimpulan, kadar c-reactive protein (CRP) dapat menjadi biomarker yang potensial untuk meningkatkan identifikasi dan perawatan dini pada penyakit COVID-19 berat pada anak. Penelitian lebih lanjut mengenai kadar D-dimer dan laktat dehidrogenase (LDH) sebagai penanda keparahan COVID-19 masih dibutuhkan untuk memberikan rekomendasi kuat.