
SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9
Author(s) -
Jefry Lodewyck
Publication year - 2019
Publication title -
missio ecclesiae /missio ecclesiae
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2721-8198
pISSN - 2086-5368
DOI - 10.52157/me.v8i2.102
Subject(s) - humanities , philosophy
Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah sumber kasih (Roma 5:8). Adalah penting untuk setiap manusia memahami, dan mengalami kasih Allah dalam pengalaman nyata sehari-hari (Ibr. 2:9). Allah sebagai desainer pernikahan, telah mendesain pernikahan sebagai satu lembaga ciptaan Allah yang tertua dalam dunia ini. Sebelum ada satu bangsa, kerajaan, bahkan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan satu unit keluarga. Kasih dalam hubungan Adam dan Hawa begitu harmonis meniktmati kasih Tuhan di dalam Taman Eden. Pernikahan adalah suatu hal yang unik, juga indah dan kudus.Alkitab memberikan gambaran hubungan suami istri seperti hubungan Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-23). Kegagalan hubungan suami-istri yang diikuti perceraian adalah salah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang penting membedakan antara kedua fenomena itu: Keinginan seorang istri atau seorang suami untuk bercerai adalah akibat dari kegagalan hubungan kasih. Kasih berperan penting dalam kelangsungan hidup pernikahan karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8). Karena kasih juga membuat seseorang rela berkorban (Ams.17:17), bahkan memberikan nyawanya. Perceraian bukanlah jalan akhir untuk penyelesaian masalah dalam pernikahan. Masih ada mujizat bagi orang yang percaya kepadaNya. Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1). Hubungan suami-istri yang harmonis sangat bergantung kepada pengertian kedudukan suami dan istri menurut Alkitab, dan bagaimana baik suami maupun istri menempatkan diri sesuai dengan pengertian itu.