
Dinamika Pergeseran Identitas Kramadangsa Menuju Identitas Manusia Tanpa Ciri
Author(s) -
Ulfatun Hasanah
Publication year - 2021
Publication title -
the international journal of pegon islam nusantara civilization
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2621-4946
pISSN - 2621-4938
DOI - 10.51925/inc.v6i02.53
Subject(s) - soul , humanities , taste , identity (music) , psychology , feeling , philosophy , sociology , aesthetics , theology , social psychology , neuroscience
The character of Ki Ageng Suryomentaram's teachings is considered unique because it is full of local wisdom values. His thinking departs from the results of internalization as well as behavior in Javanese culture which is shown in the taste at the highest level of taste that exists in humans, namely Kawruh Jiwa. He equates the Soul with Rasa, in which all inner movements include feelings, ideas, and desires. In this teaching, to reach the point of Kawruh Jiwa, one must pass the fourth dimension approach with four dimensions; the note taker dimension, the emotional dimension, the kradamangsa identity dimension, and the featureless identity dimension.This study specifically discusses these four dimensions as steps taken to arrive at the point of Raos psychology. Given that raos becomes social integration that can affect the degree or quality of interaction in society. Besides that, it also discusses the differences in the concepts of Ki Ajeng Suryomentaram's teachings with concepts from the West to determine the specification of thinking centered between taste and ratio. West places more emphasis on reason/rationality, while Suryomentaram focuses more on feeling or spirituality.
Karakter ajaran Ki Ageng Suryomentaram dianggap unik karena sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pemikirannya berangkat dari hasil internalisasi sekaligus laku dalam budaya jawa yang ditunjukkan dalam rasa pada level tertinggi rasa yang ada dalam diri manusia, yaitu Kawruh Jiwa. Ia menyamakan Jiwa dengan Rasa, yang mana segala gerak dalam batin meliputi perasaan, gagasan, dan keinginan. Dalam ajaran tersebut, untuk mencapai pada titik Kawuruh Jiwa harus melewati pendekatan ukuran keempat dengan empat dimensi; dimensi juru catat, dimensi emosi, dimensi identitas kradamangsa, dan dimensi identitas tanpa ciri.
Kajian ini secara spesifik membahas empat dimensi tersebut sebagai langkah yang ditempuh untuk sampai pada titik psikologi raos. Mengingat bahwa raos menjadi integrasi sosial yang dapat mempenagaruhi derajat atau kualitas interaksi dalam masyarakat. Selain itu juga dibahas tentang perbedaan konsep ajaran Ki Ajeng Suryomentaram dengan konsep dari Barat untuk mengetahui spesifikasi pemikiran yang berpusat antara rasa dan rasio. Barat lebih menekankan pada akal/rasionalitas, sedangkan Suryomentaram lebih kepada rasa atau spiritualitas.