
Fragmen Diskursus Islam Nusantara
Author(s) -
Fitrotul Muzayanah
Publication year - 2021
Publication title -
the international journal of pegon islam nusantara civilization
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2621-4946
pISSN - 2621-4938
DOI - 10.51925/inc.v6i02.49
Subject(s) - islam , humanities , art , sociology , religious studies , theology , philosophy
Islam nusantara is present as a thought based on the history of the ancestors. The influx of Islam in Indonesia is clearly not through conquest, colonization, or warfare, but through the inner rooms of religious and cultural relations through the benefit of trade, marriage, civility, and cultural practices.
It is no wonder that nusantara's legacy has been created by sanad scientists, literature, audio compositions, cultural traditions and architecture. Everything becomes a separate color in the islamic khazanah region.
Why is that? Because in the nascent fragment of the islamic discourse there has always been a posturing attitude: tawassuth (moderate), tawazun (fair), tasamuh (tolerant), I 'tidal (upright, consistent, istiqamah), amar ma 'ruf mungkar, proposes of good works, prevent all that devalues humanity.
Islam Nusantara hadir sebagai pemikiran yang berlandaskan pada sejarah nenek moyang. Masuknya Islam di Indonesia sudah jelas tidak melalui penaklukan, kolonisasi, maupun peperangan, akan tetapi melalui ruang batin relasi keagamaan dan kebudayaan.
Dengan memanfaatkan praktik perdagangan, pernikahan, kekerabatan, dan senibudaya.Sehingga tidak heran mampu menciptakan banyak sekali warisan Islam Nusantara berupa keilmuan-sanad, karya sastra, gubahan seni suara, tradisi budaya dan seni arsitektur. Semuanya menjadi warna tersendiri dalam khazanah Islam Nusantara.
Kenapa demikian? karena dalam fragmen diskursus Islam nusantara selalu mengedepankan sikap: Tawassuth (moderat), Tawazun (berimbang), Tasamuh (toleran), I’tidal (Tegak, Konsisten, Istiqamah), Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mengajak perbuatan baik, mencegah semua hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.