
RUWATAN ORANG JAWA KRISTEN: TINJAUAN ETIS TERHADAP PELAKSANAAN RUWATAN OLEH ORANG JAWA KRISTEN
Author(s) -
Yusak Setianto,
Ferry Mahulette
Publication year - 2020
Publication title -
matheo/matheo
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2723-6102
pISSN - 2088-8562
DOI - 10.47562/matheo.v10i1.104
Subject(s) - ceremony , worship , christianity , religious studies , theology , divinity , sociology , philosophy
Ruwatan is a form of ceremony in Javanese society that aims to free people from bad luck and the disasters that will befall on them. Some Javanese Christians who still perform the Ruwatan ceremony. The Ruwatan ceremony itself was rejected by the church and priests, especially the Javanese Christian Church/ Gereja Kristen Jawa (GKJ). This article itself aims to understand the Ruwatan model by Javanese Christians and to review it in a christian ethics related to the implementation of Ruwatan by Javanese Christian. The method used is a qualitative method with a field observation approach. The speakers were Javanese Christians who participated in Ruwatan, cultural practitioner, and priests of GKJ. We found the fact that there are two models of Ruwatan done by Javanese Christians. We give the terms with Javanese Christians A and B. Javanese Christians A do Ruwatan as in general, namely the style of Yogyakarta and Surakarta. While the Javanese Christian B performs Ruwatan that has been contextualized in the form of bidston/ pandonga worship. The Church and GKJ Priests themselves support the Ruwatan model carried out by Javanese Christian B which presents Jesus as the Human Guardian. In conclusion after being reviewed in christian Ethics, the Ruwatan carried out by Javanese Christian A cannot be justified in terms of both the motive and the action. Contrary, the Javanese Christianity B can be accepted and implemented because it is not in conflict with the Bible.
Keywords: ruwatan; javanese christians; bidston/ pakempalan pandonga; javanese christian church; christian ethics
Abstrak
Ruwatan merupakan suatu bentuk upacara di masyarakat Jawa yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari nasib buruk maupun malapetaka yang akan menimpa dirinya. Tidak sedikit orang Jawa Kristen yang masih melakukan upacara Ruwatan. Upacara Ruwatan sendiri ditolak pelaksanaannya oleh gereja dan pendeta, khususnya Gereja Kristen Jawa (GKJ). Artikel ini sendiri bertujuan untuk memahami model Ruwatan yang dilakukan orang Jawa Kristen serta meninjauan nya secara etika Kristen terkait pelaksaan Ruwatan oleh orang Jawa Kristen. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan observasi lapangan. Narasumbernya merupakan Orang Jawa Kristen peserta Ruwatan, budayawan, serta pendeta GKJ. Peneliti menemukan fakta bahwa terdapat dua model Ruwatan yang dilakukan oleh orang Jawa Kristen. peneliti memberi istilah dengan Orang Jawa Kristen A dan B. Orang Jawa Kristen A melakukan Ruwatan seperti pada umumnya yaitu bergaya Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan orang Jawa Kristen B melakukan Ruwatan yang telah dikontekstualisasikan dalam bentuk ibadah bidston/ pakempalan pandonga. Gereja dan Pendeta GKJ sendiri mendukung model Ruwatan yang dilakukan oleh orang Jawa Kristen B yang mana menghadirkan Yesus sebagai Juru Ruwat Manusia. Kesimpulannya setelah ditinjau secara etika Kristen, maka Ruwatan yang dilakukan oleh orang Jawa Kristen A tidak dapat dibenarkan baik secara motif dan tindakan pelaksanaannya. Sebaliknya, Ruwatan orang Jawa Kristen B dapat diterima dan dilaksanakan karena tidak bertentangan dengan Alkitab.
Kata Kunci: ruwatan; orang jawa kristen; bidston/ pakempalan pandonga; gereja kristen jawa; etika kristen