
METODE TAFSIR SINTESIS (TAWḪĪDI) MUḪAMMAD BAQIR AL-ŞADR: DARI REALITAS KE TEKS
Author(s) -
Abdul Wadud Kasful Humam
Publication year - 2017
Publication title -
al itqan: jurnal studi al-qur'an/al itqan : jurnal studi al-qur'an
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2579-6275
pISSN - 2442-255X
DOI - 10.47454/itqan.v1i2.8
Subject(s) - humanities , philosophy
Berawal dari ketidakpuasannya terhadap bentuk dan sistematika tafsir klasik (taḫlili) yang menurutnya telah melahirkan pandangan-pandangan parsial (not complete) dan atomistik serta belum mampu menyuguhkan pandangan solutif terhadap problem-problem kehidupan, juga karena motivasinya terhadap pernyataan sayyidina Ali bin Abi Thālib “Istantiq al-Qur’an….”, maka untuk menambal kekurangan-kekurangan dalam tafsir-tafsir klasik tersebut dan mengaplikasikan tesis ‘Ali, Muhammad Bāqir al-Şadr mengajukan sebuah metode tematik yang ia sebut dengan metode tawhîdi. Istilah tawhîdi, bukan dalam arti kesatuan tema dalam al-Qur’an sebagaimana metode tafsirnya Ḫasan al-Turābi dan yang lain, akan tetapi yang dimaksud tawhîdi oleh Bāqir al-Şadr adalah penyatuan pengalaman-pengalaman manusia (realitas sosial) dengan al-Qur’an. Metode tawhîdi adalah metode tafsir dimana penafsir tidak menafsirkan al-Qur’an secara membujur ayat per ayat, tetapi mengetengahkan pandangan al-Qur’an mengenai persoalan atau tema-tema kehidupan yang menyangkut masalah akidah, sosial dan kosmologi seperti tema tentang tauhid, kenabian (nubuwwah), ekonomi, norma-norma sejarah, penciptaan langit dan bumi dan lain-lain. Sehingga ketika ada tafsir yang disusun berdasarkan tema-tema tertentu dalam al-Qur’an dan tidak tuntas menyelesaikan problem sosial, maka Muhammad Bāqir al-Şadr menyebutnya dengan Dirāsah Qur’āniyyah, bukan tafsir tematik. Key Word: Metode tawhîdi, Dirāsah Qur’āniyyah, al-Sunan al-Tarikhiyyah