
Inovasi Teknologi pada budidaya cabai di Sulawesi Barat
Author(s) -
Ida Andriani
Publication year - 2020
Publication title -
jurnal agercolere
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2656-5145
pISSN - 2655-5611
DOI - 10.37195/jac.v2i2.106
Subject(s) - computer science
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Barat merupakan salah satu unit kerja Balitbangtan mendapat mandat melakukan pendampingan dan pengawalan dalam penerapan inovasi teknologi usahatani. Sebagai fungsi kontrol pendampingan berperan untuk melihat sejauh mana tingkat penerapan teknologi yang sudah exist di tingkat usahatani, serta melakukan identifikasi masalah dan kendala terhadap kondisi sumberdaya sebagai faktor penyebab rendahnya aplikasi teknologi di tingkat usahatani. Sebagai fungsi fasilitator, pendampingan berperan dalam proses adopsi inovasi teknologi yakni melakukan introduksi teknologi yang adaptif spesifik lokasi, serta melakukan perbaikan-perbaikan inovasi teknologi yang sudah exist di petani. kegiatan ini bertujuan: a) meningkatkatkan pengetahuan petani/penyuluh melalui identifikasi, pelatihan, gelar teknologi budidaya cabai b) meningkatkan, produktivitas, dan pendapatan petani cabai; mempercepat proses adopsi inovasi teknologi cabai. Hasil kegiatan demfarm inovasi teknologi budidaya cabai di Sulawesi Barat adalah : 1) Kegiatan inovasi teknologi budidaya cabai di Sulawesi Barat dilaksanakan di lahan sawah (Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju (POKTAN Sirannuang II), dan di lahan kering (Desa Baruga Dua, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene (POKTAN Rahmat). Masing-masing dengan luasan 1 ha; 2) Pembinaan dan bimbingan inovasi teknologi pada kelompok tani dilakukan dengan metode diseminasi melalui pelatihan, dan pendampingan aplikasi teknologi di lokasi demfarm; 3) Meningkatnya pengetahuan petani kooperator tentang budidaya cabai yang berwawasan lingkungan ditunjukkan dengan tingkat penerapan teknologi dilapangan; 4) Melalui perbaikan dan penerapan paket teknologi budidaya cabai, baik di lahan sawah maupun di lahan kering dapat meningkatkan produktivitas tanaman cabai (Var. Imola, Arimbi 85, Horison, Baja, LABA, dan Kriss) dibandingkan dengan tanaman cabai non demfarm; 5) Secara ekonomis, usahatani cabai di tingkat petani, baik di lahan sawah ataupun di lahan kering masih menguntungkan dengan nilai BC ratio antara 3,9 – 3,94; 6) Teknologi introduksi, baik di lahan sawah ataupun di lahan kering memberikan keuntungan jauh lebih besar dibanding dengan teknologi petani dengan nilai BC ratio 5,78 (lahan sawah) dan 6,69 (lahan kering) untuk usahatani cabai varietas LABA. Teknologi tersebut layak untuk diterapkan/dikembangkan karena memberikan nilai MBCR 7,42 (lahan sawah) dan 11,25 (lahan kering); dan 7) Semua varietas cabai yang ditanam (Var. Imola, Arimbi 85, Horison, Baja, dan Kriss) dengan teknologi introduksi, baik di lahan sawah maupun di lahan kering memberkan keuntungan yang lebih besar dibanding dengan cara petani dan teknologi tersebut layak untuk diterapkan.