
Melepasi Belenggu Kontrak Kompeni: Refleksi Hubungan Buton-Belanda dalam Warkah Voc kepada Sultan Azimuddin
Author(s) -
S. Suryadi
Publication year - 2018
Publication title -
malay literature/malay literature
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2682-8030
pISSN - 0128-1186
DOI - 10.37052/ml.31(2)no2
Subject(s) - humanities , art
Kesultanan Buton yang terletak di jazirah tenggara Pulau Sulawesi adalah sebuah kerajaan Islam bercorak kepulauan yang sudah wujud lama sebelum kedatangan kuasa Eropah di Dunia Melayu-Nusantara. Secara politik, Kesultanan Buton selalu berasa terancam kerana persaingan dan peluasan wilayah dan politik antara dua kerajaan tetangganya yang besar dan kuat, iaitu Gowa dan Ternate. Oleh itu, Sultan Buton ke-4 Dayanu Ikhsanuddin atau La Elangi (1578 – 1615) mengikrarkan “persekutuan abadi” dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 5 Januari 1613. Inti perjanjian itu adalah bahawa VOC akan membantu Buton apabila diserang oleh musuh- musuhnya tapi dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Buton. Perjanjian itu telah ‟mengikat” sultan Buton berikutnya. Makalah ini membahaskan sepucuk warkah sepanjang 13 halaman daripada Gabenor VOC di Makassar, mewakili Gabenor Jeneral VOC di Batavia, yang dikirimkan kepada Sultan Buton ke-25, Azimuddin atau La Masalumu (1788 – 1791), bertarikh 25 Februari 1791 yang versi digitalnya dimiliki oleh The British Library dengan kod EAP212/6/3 dan naskhah aslinya tersimpan di Buton, yang berada dalam koleksi Abdul Mulku Zahari di Baubau. Makalah ini membahaskan isinya dan menghubungkaitkan dengan latar sejarah sosiopolitik Kesultanan Buton. Kata kunci: Buton, warkah, EAP212/7/3, The British Library, VOC, kontrak politik, Sultan Azimuddin, kolonialisme Abstract The Sultanate of Buton, situated in the south-eastern peninsula of Sulawesi Island, was an archipelagic Islamic kingdom that has long been existed before the arrival of European power in the Malay- Nusantara world. Politically, the Sultanate of Buton, that was relatively small, always feels threatened because of the territorial expansion and political rivalry between its large and powerful neighboring kingdoms: Gowa and Ternate. Therefore, the 4th Butonese sultan Dayanu Ikhsanuddin or La Elangi (1578 – 1615) pledged “everlasting alliance” with the Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) on 5 January 1613. The essence of the treaty was that the VOC would help Buton if attacked by the enemies, but with some requirements that must be met by Buton. The treaty had “bundled” the next Buton sultans. This paper discusses a 13-pages letter sent by the VOC’s Governor in Makassar, represented the VOC’s Governor General in Batavia, to the 25th Butonese sultan Azimuddin or La Masalumu (1788 – 1791), dated on 25 February 1791,which its digital version owned by The British Library under code EAP212/6/3 and its original manuscript hold in Abdul Mulku Zahari’s collection in Baubau, Buton. This paper provides the Roman transliteration of the letter, discusses its contents and relates them to the socio-political historical background of the sultanate of Buton of that period. Keywords: Buton, letter, EAP212/7/3, The British Library, VOC, political contract, Sultan Azimuddin, colonialism