z-logo
open-access-imgOpen Access
The Image of the Europeans in Hikayat Mareskalek
Author(s) -
Noriah Taslim
Publication year - 2016
Publication title -
malay literature/malay literature
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2682-8030
pISSN - 0128-1186
DOI - 10.37052/ml.29(1)no4
Subject(s) - malay , etiquette , narrative , history , literature , art , humanities , philosophy , linguistics
This article discusses the Hikayat Mareskalek as a work of etiquette literature intended to instruct the Malay rulers through a European character. The 18th/19th centuries were a time that saw the emergence of not only new types of writing but also new genres modelled on those introduced by the Europeans; the date of production of this hikayat falls during this time. Under the influence and patronage of Europe, transitional works such as these display a pro-European tendency in terms of the narrative point of view and he orientation of thought. However, fascination with Europe was not in fact total. Hikayat Mareskalek (Maarschalk Willem Daendels), written by Abdullah al-Misri in Pontianak in 1815, is one of the works that does not display such a tendency. Although this hikayat mentions a European in its title, he is not the subject of the narrative; instead the writer cleverly exploits and manipulates his characteristics, attitudes and actions to act as a “mirror” reflection for the Malay rulers. Keywords: Hikayat Mareskalek , Maarschalk Willem Daendels, etiquette genre, Abdullah al-Misri, reflection of Malay rulers Abstrak Makalah ini membicarakan Hikayat Mareskalek sebagai sebuah genre adab yang mengajar raja-raja Melayu melalui watak dan perwatakan seorang pentadbir Eropah. Hikayat ini ditulis pada abad ke-18/19, iaitu abad yang menyaksikan kemunculan bukan sahaja bentuk kepengarangan jenis-jenis baharu tetapi juga pengenalan genre baharu yang bermodelkan bentuk penulisan yang diperkenalkan orang Eropah. Di bawah pengaruh dan naungan Eropah, karya transisi memperlihatkan kecenderungan untuk bersifat pro-Eropah dari sudut subjek penceritaan dan orientasi pemikiran. Namun, fenomena pesona Eropah ini sebenarnya tidak berlaku secara menyeluruh. Hikayat Mareskalek (Maarschalk Willem Daendals) yang ditulis oleh Abdullah al-Misri di Pontianak pada tahun 1815 ini merupakan antara karya yang tidak memperlihatkan kecenderungan sedemikian. Walaupun hikayat ini menggunakan orang Eropah sebagai judulnya, tetapi tidak menjadikannya subjek penceritaan, sebaliknya dengan bijak mengeksploitasi dan memanipulasi seluruh sifat, sikap dan tindak-tanduknya untuk tujuan menjadi “cermin” kepada raja-raja Melayu. Kata Kunci: Hikayat Mareskalek, Maarschalk Willem Daendals, genre adab, Abdullah al-Misri, cermin raja-raja Melayu

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here