
KARESIDENAN MANADO DALAM KANCAH PERDAGANGAN MARITIM DI HINDIA BELANDA, AWAL ABAD XIX – 1942
Author(s) -
Jhon Rivel Purba
Publication year - 2018
Publication title -
pangadereng
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2686-4355
pISSN - 2502-4345
DOI - 10.36869/pjhpish.v4i2.58
Subject(s) - political science , geography , humanities , art
Penelitian ini mengkaji keterlibatan Karesidenan Menado dalam perdagangan maritim di Hindia Belanda pada abad XIX sampai 1942. Rumusan pertanyaan yang dijawab dalam penelitian ini yaitu, apakah letak geografis Karesidenen Menado turut memengaruhi keterlibatannya dalam jaringan perdagangan maritim di Hindia Belanda? dan bagaimana dinamika perdagangannya di bawah pemerintahan Hindia Belanda? Penulisan ini menggunakan metode kualitatif (studi pustaka). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keterlibatan karesidenan ini dalam perdagangan maritim tidak hanya didukung oleh potensi ekonomi, tetapi juga oleh letak geografisnya yang relatif memudahkan pelaku ekonomi untuk memasuki wilayah ini. Karesidenan Menado dikelilingi beberapa perairan yang bersentuhan langsung dengan beberapa kawasan, seperti Filipina di sebelah utara, Ternate di sebelah timur, Jepang di sebelah timur laut, dan pesisir barat wilayah Amerika. Selain Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, KPM dan Cekumij-nya, aktor yang berperan dalam kegiatan ini yaitu penduduk lokal, Etnis Tionghoa, Orang Arab, dan negaranegara lain, seperti Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Norwegia, dan Amerika Serikat, melalui kapal-kapalnya. Potensi ekonomi dan keberadaan kapal asing mendorong pemerintah membuat sejumlah regulasi, yaitu pengangkutan komoditas perdagangan harus menggunakan kapal KPM atau Cekumij. Pemerintah juga mengalihkan rute distribusi komoditas tersebut ke Makassar. Kapal milik negara lain tidak lagi dapat menjemput komoditas secara langsung ke daerah penghasil, tetapi harus mengambilnya ke Makassar.