z-logo
open-access-imgOpen Access
UNSUR KOMPETISI MUSIKAL DALAM SAJIAN GENDING GAMELAN SEKATEN
Author(s) -
Sigit Setiawan
Publication year - 2019
Publication title -
keteg
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2714-6367
pISSN - 1412-2065
DOI - 10.33153/keteg.v18i1.2393
Subject(s) - humanities , art
AbstrakSekaten merupakan sebuah refleksi kebudayaan di Keraton Surakarta. Saat ini, perayaannya dimaknai sebagai bentuk eksistensi Keraton Surakarta sebagai tonggak penyangga kebudayaan. Perayaan Sekaten dengan berbagai kepentingan masyarakat di Surakarta telah menjadikannya peristiwa yang patut diapresiasi oleh mereka yang masih menjadikan Keraton Surakarta sebagai kiblat lingkup kebudayaan Jawa. Salah satu yang mencerminkan situasi tersebut adalah keberadaan Gamelan Sekaten yang di dalam penyajiannya terdapat unsur “kompetisi” musikal. Hal ini tidak dapat lepas dari penambahan perangkat Gamelan Sekaten yang semula berjumlah satu perangkat menjadi dua perangkat yakni di masa pemerintahan Paku Buwono IV. Situasi tersebut membuat para pengrawit (pemain gamelan) harus kreatif dan mempunyai referensi gending yang banyak. “Iklim kompetisi” – yang hingga kini masih berlangsung – tersebut akhirnya melahirkan konsep musikal berdasarkan pertimbangan-pertimbangan estetika musikal karawitan seperti konsep sisihan. Konsep inilah yang digunakan sebagai “standar kompetisi” seperti kemiripan nama, kemiripan garap, golongan gending dan bentuk kemiripan (lagu) balungan gending.Kata Kunci: gamelan, sekaten, kompetisi musikal.Abstract Sekaten is a reflection of the culture within the Keraton Surakarta. Currently, this celebration is understood as one way the Keraton Surakarta exists to support cultural institutions. Sekaten, which serves many interests of Surakarta’s community, has become an event that should be appreciated by those who still consider the Keraton Surakarta as the mecca of Javanese culture. One phenomenon that reflects the aforementioned situation is the existence of musical “competition” in the presentation of Gamelan Sekaten. This is closely tied to the addition of a second set of instruments during the reign of Paku Buwono IV to the original one. This situation spurs the pengrawit (gamelan musicians) towards creativity and knowledge of a wide repertoire of gendhing. The “climate of competition” - still found today - finally gave rise to musical concepts based on considerations of musical aesthetics, such as the idea of “sisihan” found in karawitan. This concept is used as the “standard of competition”: the similarities of names, similarities in garap (musical interpretation), the grouping of gending and melodic (lagu) similarities in the balungan gending.Keywords: gamelan, sekaten, musical competition.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here