z-logo
open-access-imgOpen Access
Al-Qardh Dari Harta Zakat Bagi Mustahik dan Implementasinya di Baznas Indonesia dan PPZ Malaysia
Author(s) -
Nurcahaya,
Yusrialis,
Akbarizan
Publication year - 2019
Publication title -
journal of fatwa management and research
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 0127-8886
pISSN - 2232-1047
DOI - 10.33102/jfatwa.vol0no0.283
Subject(s) - loan , islam , documentation , political science , business , accounting , theology , law , finance , philosophy , computer science , programming language
There are several Amil Zakat Institutions in Indonesia that distribute zakat to mustahik by lending it. Mustahik zakat accepts zakat not as his property but only as a loan which he must return as debt to amil. Whereas ulama argue that the property of zakat if it has been paid to Amil, it must immediately be paid to mustahik, because the property belongs to the mustahik of zakat is not permitted for the institution or amil to distribute zakat in the form of al-qardh (loan). This study aims to examine how al-qardh) zakat to mustahik according to jurisprudence and how the process of implementing (al-qardh) zakat to mustahik in amil institutions in Indonesia and Malaysia. The research method was carried out by reading the Fiqh al-Zakah, Yusuf Al-Qardhawi and Majmu al-Fatawa wa Rasail, Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin, and using observation, interview and documentation techniques. Badan Amil Zakat (BAZNAS) in Indonesia and the Pusat Pungutan Zakat (PPZ) in Malaysia. The results of the study found two mazhab of Islamic scholars who differed in their opinions about their abilities. The first, such as Yusuf al-Qardhawi, Abu Zahrah, Khallaf and Hasan said that the zakat could be lent based on qias to those who are in debt. The second, such as Muhammad Bin Salih Uthaimin and Hussein Shahatah, argued that if the zakat is paid, it must be issued immediately, the ownership belongs to the mustahik and it is not permissible for the amil institution to distribute zakat in the form of al-qardh (loan). Baitul Qiradh BAZNAS is a program from prosperous Indonesia and part of the zakat empowerment program to improve the welfare of the poor. Baitul Qiradh BAZNAS applies a profit sharing pattern or sharia, so that small micro-businesses are free from the interest system (usury). Products managed by Baitul Qiradh BAZNAS are deposits and financing using sharia principles. Baitul Qiradh BAZNAS is expected to help increase the economy of small communities through the Islamic economic system, especially qardhul hasan. The Baitulmal MAIWP Institution as an extension of PPZ does not practice the type of zakat financial assistance in the form of soft loans to mustahik. Abstrak  Ada beberapa Lembaga Amil Zakat di Indonesia yang mengagihkan zakat ke mustahik dengan cara meminjamkannya. Mustahik zakat menerima zakat bukan sebagai hak miliknya tetapi hanya sebagai pinjaman yang ia harus mengembalikannya sebagai hutang kepada amil. Padahal ulama berpendapat bahawa harta zakat apabila telah dibayarkan kepada Amil, maka wajib segera dikeluarkan, kerana harta tersebut kepemilikannya menjadi milik mustahik zakat tidak diperbolehkan bagi lembaga atau badan amil mengagihkan zakat dalam bentuk al-qardh (pinjaman). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana hukum meminjamkan (al-qardh) zakat kepada mustahik menurut fuqaha dan bagaimana proses pelaksanaan (al-qardh) zakat kepada mustahik di lembaga atau badan amil Indonesia dan Malaysia. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengkai buku Fiqh al-Zakah, karya Yusuf Al-Qardhawi dan Majmu’al-Fatawa wa Rasail, Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin, dan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Indonesia dan Pusat Pungutan Zakat (PPZ) di Malaysia. Hasil penelitian menemukan dua kelompok ulama fiqih yang berbeza pendapat tentang kebolehannya. Kelompok pertama, seperti Yusuf al-Qardhawi, Abu Zahrah, Khallaf dan Hasan mengatakan boleh harta zakat dipinjamkan berdasarkan qias terhadap orang yang berhutang. Kelompok kedua, seperti Muhammad Bin Shalih Utsaimin dan Husein Shahatah berpendapat bahawa harta zakat apabila telah dibayarkan, maka wajib untuk segera dikeluarkan, kepemilikannya menjadi milik mustahik dan tidak diperbolehkan bagi lembaga atau badan amil mengagihkan zakat dalam bentuk al-qardh (pinjaman). Baitul Qiradh BAZNAS merupakan satu program dari Indonesia makmur  dan bagian program pendayagunaan zakat untuk meningkatkan kesejahteraan fakir dan miskin. Baitul Qiradh BAZNAS menerapkan pola bagi hasil atau syariah, agar usaha mikro kecil terbebas dari sistem bunga (riba). Produk yang dikelola Baitul Qiradh BAZNAS adalah simpanan dan pembiayaan yang memakai prinsip syariah.  Baitul Qiradh BAZNAS diharapkan dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat kecil melalui sistem ekonomi syariah, khususnya qardhul hasan. Lembaga Baitulmal MAIWP sebagai perpanjangan tangan PPZ tidak mempraktekkan jenis bantuan kewangan zakat dalam bentuk pinjaman lunak kepada mustahik.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here