
Studi Kelayakan Desain Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sebagai Sumber Energi Listrik 200 MW
Author(s) -
Jenni Ria Rajagukguk
Publication year - 2020
Publication title -
media ilmiah teknik lingkungan
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2655-2000
pISSN - 2502-1931
DOI - 10.33084/mitl.v5i1.1371
Subject(s) - physics , waste management , environmental science , biogas , engineering
Sampah dapat menjadi beberapa sumber energi untuk energi listrik, biogas dan biofuel. Hambatan dalam pencapaian target pembangunan dalam bidang energi, sebesar 96% konsumsi energi di Indonesia masih dipenuhi dengan penggunaan energi fosil (48% minyak bumi, 30% batubara dan 18% gas). Sehingga Energy from Wasteyang tepat menuju lingkungan yang baik (Best for Environment), melalui tempat pembuangan sampah (TPA)/(Landfill), Inceneratorion, Recovery (Daur ulang atau reuse, pengomposan atau composting, waste to energy atau limbah menjadi energi), penggunaan kembali dan minimisasi limbah. Potensi energi yang dihasilkan tergantung dari volume sampah. TPABantar Gebang Bekasi menurut penelitian pertengahan tahun 2008 mencapai 9.932.142,24 m3 dengan prediksi jumlah sampah perhari sekitar 7.000 ton. Timbunan limbah berasal dari sampah pemukiman (rumah tangga) dan non pemukiman pada periode 3 tahun terakhir di Pulau Jawa, adalah 29.413.336 m3/tahun atau 44% (2008), 22,2 juta ton/tahun atau 58% (2009)dan terjadi peningkatan untuk daerah Jakarta, yaitu dari 6.594,72 ton/hari diperkirakan menjadi7200 ton/hari pada tahun 2020.Penelitian ini bertujuan menegtahui potensi gas landfill (LFG) yang dihasilkan dari timbunan sampah TPA Bantar Gebang Kabupaten Bekasi dan kapasitas energilistrik yang dapat dibangkitkan dari kandungan gas landfill tersebut dan kelayakN dibangunnya pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) 200 MW di daerah tersebut. Metode penelitian adalah penelitian rekayasa dan teoritis dengan tujuan menghasilkan potensi gas landfill dari penguraian limbah organik sebagai sumber energi listrik alternatif dengan sumber energi 200 MW dan menghasilkan hasil kajian studi kelayakan.