z-logo
open-access-imgOpen Access
ALIH FUNGSI LAHAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP EKSISTENSI AGAMA DAN BUDAYA DI BALI
Author(s) -
Ida Bagus Dharmika
Publication year - 2019
Publication title -
dharmasmrti
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2620-827X
pISSN - 1693-0304
DOI - 10.32795/ds.v19i2.434
Subject(s) - humanities , political science , physics , art
Konflik sosial budaya yang terjadi, baik dalam masyarakat manapun di dunia ini termasuk yang di berbagai daerah Indonesia dimulai oleh perebutan sumber-sumber daya alam. Apabila perebutan ini berjalan sesuai  aturan main  yang mereka anggap adil, maka konflik tidak terjadi. Namun, jika terjadi  sebaliknya, maka  konflik sulit dihindarkan. Perebutan  sumber daya alam (tanah)  yang mengabaikan nilai keadilan, nilai kejujuran dan nilai religius merupakan sumber konflik  yang tak bisa diabaikan. Persoalan tanah yang banyak beralih  fungsi di Kota Denpasar, menjadi halangan yang sangat besar dalam mewujudkan dan menjaga sumber air sawah agar tetap lestari dan mempengaruhi budaya dan agama (super struktur) yang dianut. Alih fungsi sawah menjadi restauran, pertokoan, jalan, pemukiman, perkantoran yang demikian cepat menyebabkan berkurangnya  penyerapan air ke tanah.  Air hujan  yang turun dari langit tidak  ‘transit’ di sawah-sawah, tegalan atau resapan, airnya kemudian langsung mengalir ke laut tanpa pernah kita manfaatkan sebagai air tawar, air bersih.  Persoalan tanah yang demikian besarnya beralih fungsi terutama di kota-kota besar  nantinya akan mempengaruhi budaya, dan agama (super struktur) yang dianut oleh masyarakat Bali.    

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here