
KERUKUNAN BERAGAMA (STUDI TENTANG PERAN "HUHU KEBIE" SEBAGAI SARANA INTEGRASI DI PULAU SABU NTT)
Author(s) -
aziz albone
Publication year - 2018
Publication title -
al qalam - balai penelitian lektur keagamaan ujung pandang/al-qalam
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2540-895X
pISSN - 0854-1221
DOI - 10.31969/alq.v5i1.634
Subject(s) - theology , philosophy
Bumi Indonesia terkcnal scbagai ternpat pertemuan agama-agama besar dan sccara resmi diakui keberadaannya di Indonesia, sepcrti Islam, Kristen, Protestan, Katholik, Hindu dan Budha. Disamping agama- agama resmi, di Pulau Sabu yang menjadi sasaran penelitian ini tcrdapat agama lokal yang disebut "Jingitin" (Halaik). Kehadiran agama-agama besar, tidak hanya mempengaruhi kedudukan agama asl i, te-tapi juga mcnimbulkan kctegangankctegangandidalammasyarakat. Bagi ketiga agama, yaitu Islam, Hindu dan Budha, tidak hanya bergcrak dibidang spiritual, teapi dalam bidang politik (kenegaraan). Bagi mcrcka sccara prinsip, agama identik dengan ncgara. Hal demikian tcrwujud dalam scjarah Nusanlaradengan berdirinya kcrajaan Hindu, Budha dan Islam. Dalam Ncgara RI mcrdeka, agama sebagai sumber kctcgangan dan pcrselisihan agak dapat d i rcdakan dengan di terim anya Pancasi 1 a dan UUD 1945, dimana prinsip kebesaran bcragama ditetapkan menjadi hukum ncgara. Namun demikian, hal itu tidak berarti kcricuhan tidak terjadi sama sekali. Walaupun umat agama-agamabesar hidup bcrdampingan dalam masyarakat yang sama, harus diakui bahwa jarak jiwa sosial dari golongan yang satu dengan yang lain, scbclum tahun 1965-an cukupjauh. Agamaagama itu saling mcnulup diri, masingmasing hidup dalam dunianya sendiri. Komunikasi terbatas pada hubungan urusan hidup sehari-hari tidak pemah ada pcrgaulan antarapemcluk-pcmulukitu sebagai umat bcragama ang baik. Keadaan sepcrti itu penyebab dari keresahan-keresahan tcrscbut di atas (Hendropuspito, 1984 : 188 - 189).