
KECERDASAN BUDAYA KIAI MOJO DALAM MENDIRIKAN KAMPUNG JAWA TONDANO (KIAI MOJO'S CULTURE INTELLIGENCE IN ESTABLISHING KAMPUNG JAWA TONDANO)
Author(s) -
Kamajaya Al Katuuk
Publication year - 2020
Publication title -
al qalam - balai penelitian lektur keagamaan ujung pandang/al-qalam
Language(s) - Slovenian
Resource type - Journals
eISSN - 2540-895X
pISSN - 0854-1221
DOI - 10.31969/alq.v26i2.851
Subject(s) - humanities , sociology , philosophy
Keteladanan dalam mendirikan komunitas yang memiliki identitas budaya khusus, seperti Jawa Tondano adalah hal yang tidak mudah. Diperlukan kemampuan manajerial mumpuni. Apalagi sebelumnya di daerah tersebut terdapat masyarakat lokal yang memiliki identitas berbeda. Dalam komunitas Jawa-Tondano, identitas dibangun di atas landasan agama Islam dan budaya Jawa. Adapun unsur pendukungnya terdiri dari masyarakat pejuang yang diasingkan dari Perang Jawa dan pemukim setempat. Tokoh kunci dari pendiri Jawa Tondano adalah Kiai Mojo. Subyek penelitian adalah berada pada masyarakat Kampung Jawa-Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, terutama warisan manajemen budaya Kiai Mojo yang tetap dirasakan hingga kini. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah manajemen budaya yang diinisiasi oleh Kiai Mojo, serta respons masyarakat Minahasa pada saat kampung Jawa Tondano dibangun. Tulisan ini bertumpu pada konsep kecerdasan budaya dari Brooks Peterson yang merumuskan kecerdasan budaya sebagai kemampuan untuk terlibat dalam serangkaian perilaku yang menggunakan keunggulan interpersonal dalam berinteraksi. Dalam konteks ini, teori kepemimpinan kesatria dari Summet Kumar ditambahkan untuk menginterpretasi sosok Kiai Mojo. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pendirian Kampung Jawa-Tondano terwujud karena kemampuan Kiai Mojo menerapkan manajemen budaya yang bercirikan kemampuan toleransi tanpa mengesampingkan sikap kesatria dalam mempertahankan identitas dan prinsip agama. Hal mana yang juga secara simultan ditunjukkan masyarakat Minahasa pada waktu itu.