z-logo
open-access-imgOpen Access
Sosok Maryam dalam al-Qur'an
Author(s) -
Mizan Adiliah
Publication year - 2020
Publication title -
at-tibyan
Language(s) - Slovenian
Resource type - Journals
eISSN - 2614-7068
pISSN - 2614-5774
DOI - 10.30631/atb.v2i1.11
Subject(s) - mathematics , humanities , art
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang sosok Maryam dalam al-Qur’an dan ayat-ayat keistimewaan Maryam melalui dua sudut sisi pandang penafsir dari periode yang berbeda yaitu Ibnu Katsir, seorang ulama tafsir klasik dan M. Quraish Shihab seorang ulama tafsir modern. Penulis membatasi pembahasan yang akan dikaji pada QS. Ali Imran ayat 37 dan 42, dan QS. Maryam ayat 24 dan 25. Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah (library research) dengan menggunakan teknik analisis komparatif, dan metode yang penulis gunakan dalam menganalisis permasalahan ini adalah metode muqaran/perbandingan. Hasil dari penelitian ini penulis menemukan ketika menafsirkan ayat-ayat keistimewaan Maryam pada surah Ali Imran ayat 37 dan 42, dan surah Maryam ayat 24 dan 25, baik tafsir Ibnu Katsir maupun tafsir al-Misbah memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaannya terletak pada pemahaman mereka dalam menafsirkan ayat tersebut. Dalam QS. Ali Imran ayat 37, perbedaannya pada penafsiran tentang pengasuhan Maryam yaitu Zakaria dan pada penafsiran kata رزق. Dalam QS. Ali Imran ayat 42, perbedaannya pada penafsiran kata isthofa. Ibnu Katsir tidak menafsirkan kata isthofa itu tetapi menafsirkan ayat 42 ini secara umum. Berbeda dengan penafsiran M. Quraish Shihab yang menafsirkan secara rinci terkait dengan dua kata isthofa dalam ayat ini. Dalam QS. Maryam ayat 24 dan 25 pula perbedaan tentang penafsiran rezeki makanan dan minuman yang diperoleh Maryam setelah melahirkan Isa AS.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here