
BIDADARI DALAM TAFSIR ALQURAN: KOMPARASI PEMIKIRAN IBN ‘ÂSYÛR DAN AMINA WADUD
Author(s) -
Moh. Rozin
Publication year - 2021
Publication title -
dirosat
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2541-1675
pISSN - 2541-1667
DOI - 10.28944/dirosat.v5i2.508
Subject(s) - philosophy , humanities
Isu-isu gender dianggap tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem teologi paling mendasar dalam agama. Dalam kaitan ini tema bidadari penting untuk dikaji, sebab merupakan bagian penting dari konsep eskatologi Islam. Sementara wacana eskatologi Islam, meskipun kerap menciptakan variasi interpretasi dan memancing perdebatan, namun faktanya diskursus tentangnya selama ini berlangsung statis. Ibn ‘Âsyûr dan Amina Wadud hadir sebagai sosok yang berusaha menghidupkan kembali pembahasan tersebut. Fokus dari kajian ini adalah bagaimana hakikat bidadari menurut Ibn ‘Âsyûr dan Amina Wadud, dan bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya. Metode deskriptif-analitis-komparatif digunakan untuk mengkaji pemikiran kedua tokoh tersebut terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian bidadari, yang meliputi term hūrun ‘īn dan azwāj. Ungkapan hūrun ‘īn, menurut Ibn ‘Âsyûr , perlu dipahami sebagai petunjuk eksistensinya, sementara bagi Amina Wadud, ungkapan tersebut perlu dipahami sebagai petunjuk metaforis, oleh sebab ungkapan yang sebenarnya dimaksudkan Alquran tentang konsep pasangan di Surga adalah ungkapan azwāj yang tidak terikat jenis kelamin. Amina Wadud mengalienasi konsep hūrun ‘īn dari konsep azwāj, sementara Ibn ‘Âsyûr menganggap kedua istilah tersebut sama atau setara. Perbedaan kontras di antara pemikiran kedua tokoh terdapat dalam argumentasi yang mereka gunakan untuk mendukung pendapat masing-masing. Hal ini berangkat dari latar belakang pemikiran dan konstruksi metodologi yang berbeda.