z-logo
open-access-imgOpen Access
VITALITAS BAHASA, DIGLOSIA, DAN KETIRISANNYA: PEMERTAHANAN BAHASA MANDURO DI DESA MANDURO, KECAMATAN KABUH, KABUPATEN JOMBANG, JAWA TIMUR
Author(s) -
Eti Setiawati,
Dany Ardhian,
Wahyu Widodo,
Nfn Warsiman
Publication year - 2019
Publication title -
widyaparwa
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2528-1089
pISSN - 0215-9171
DOI - 10.26499/wdprw.v47i2.293
Subject(s) - geography , political science , sociology , socioeconomics
A minority language will be very difficult to survive if the language is surrounded by a majority language, moreover, this region is very dependent on the surrounding area, both in terms of economy, government, education, and health. However, some regions can survive and are not affected by the surrounding languages. This study seeks to describe the language vitality, diglossia, and language leakage.The study sites were taken in four hamlets (Dander, Goa, Matokan, and Gesing) Manduro Village, Kabuh, Jombang, East Java. Manduro village was chosen because its inhabitants speak Madurese, but are surrounded by Javanese residents and are separated from their mother tongue (Madurese). Data sources were taken from one hundred respondents in four groups (children, teenagers, adults, and old).Data collection uses source triangulation techniques: observation (note-taking), questionnaire (adapted from Bahasa Kita Atmajaya questioner), and in-depth interviews. The results of the study showed that language vitality index was 0.69; category IV; stable, but potentially threatened. Diglossia is in family domain, kinship, neighbors, and friendship. The language leakage occured of friendship domain.Suatu bahasa minoritas akan sangat sulit bertahan jika bahasa itu dikepung oleh bahasa mayoritas, apalagi wilayah ini sangat bergantung pada wilayah sekitarnya, baik dari sisi ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan. Akan tetapi, beberapa daerah seperti itu justru mampu bertahan dan tidak terpengaruh dengan bahasa-bahasa di sekitarnya.Kajian ini berusaha mendeskripsikan vitalitas bahasa, diglosia, dan ketirisan bahasa (language leakage).Lokasi penelitian diambil di empat dusun (Dander, Goa, Matokan, dan Gesing) Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Desa Manduro dipilih karena  penduduknya berbahasa Madura, tetapi dikelilingi oleh penduduk berbahasa Jawa serta terpisah dengan bahasa induknya (bahasa Madura). Sumber data diambil dari seratus responden dalam empat kelompok (anak, remaja, dewasa, dan manula). Pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi sumber: pengamatan (simak-catat), angket (diadopsi dari questioner Bahasa Sehar-hari Universitas Katolik Indonesia Atmajaya, dan wawancara mendalam. Hasil kajian memperlihatkan indeks vitalitas bahasa adalah 0,69, kategori IV, dengan situasi bahasa stabil-mantap, tetapi berpotensi terancam. Diglosia terdapat pada ranah keluarga, kerabat, pertetanggaan, dan pertemanan. Ketirisan diglosia terjadi pada ranah pertemanan.  

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here