
Tradisi Sawer Panganten Sunda Di Desa Parigi Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran
Author(s) -
Yadi Kusmayadi
Publication year - 2018
Publication title -
agastya
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2502-2857
pISSN - 2087-8907
DOI - 10.25273/ajsp.v8i2.2470
Subject(s) - physics , humanities , art
Secara garis besar tradisi sawer panganten dilakukan setelah selesai akad nikah, pasangan pengantin duduk di kursi yang disimpan di depan rumah mempelai wanita yang disaksikan ratusan pasang mata. Tempat yang digunakan untuk upacara sawer merupakan tempat terbuka yang biasa disebut tempat panyaweran. Pasangan pengantin tersebut didampingi oleh seorang pemegang payung dan didepannya berdiri juru sawer atau biasa disebut penyawer. Juru sawer ini umumnya kaum wanita .Upacara sawer diawali dengan mengucapkan ijab kabul oleh penyawer, kemudian dilanjutkan dengan melantunkan syair/puisi sawer. Puisi sawer adalah puisi yang biasa dilagukan pada waktu upacara sawer seperti pada waktu upacara khitanan dan perkawinan. Kata sawer mengandung arti tabur atau sebar. Setelah melantunkan satu bait syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, permen, uang logam dan bermacam – macam bunga rampai yang disimpan di dalam baskom (tempat menyimpan benda saweran) ke atas payung atau ke arah pengantin. Sehingga dalam waktu bersamaan, anak - anak ata u pun orang dewasa yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawerdan permen.