z-logo
open-access-imgOpen Access
NEO-KAJANG: SEBUAH TIPOLOGI BARU PEMUKIMAN EKOLOGIS BAGI KOMUNITAS SUKU LAUT
Author(s) -
Octaviany Octaviany,
Alvin Hadiwono
Publication year - 2022
Publication title -
jurnal sains, teknologi, urban, perancangan, arsitektur
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6263
pISSN - 2685-5631
DOI - 10.24912/stupa.v3i2.12415
Subject(s) - human settlement , modernity , geography , typology , identity (music) , political science , sociology , archaeology , law , physics , acoustics
The development of the city today is not all in a positive direction. urban growth that is too fast and unplanned, it can cause changes to lifestyle, knowledge, locality, identity, etc. The Sea Nomad is a community that is known to live on a canoe called a kajang. However, since the 1990s, the Sea Nomad has been placed in a marginal position and also does not know civilization and modernity, so it is categorized as an isolated Nomad. Therefore, the Sea Nomad became a target in the government's agenda, namely by limiting their access to the sea and building settlements for them. This forces the Sea Nomad to live a different lifestyle from the one they used to live, bringing themselves to a new awareness of "awareness as a landed Sea Nomad" and causing the emergence of new values, changes in spatial behavior (livehood, social organization, etc.). ). This project uses a hybrid method with parameters, namely the Symbiosis Philosophy of Sea Nomad and Beyond Ecology which are applied in the design. “Neo-Kajang” means “Beyond-Kajang”, Kajang is the term for where the Sea Nomad live, while “New typology of marine tribal ecological settlements” means adapting the journey and way of life of the Sea Nomad into a new typology to answer the challenges of the times. This project is also expected to be able to elevate the way of life of the Sea Nomad in the face of changing times where in fact the Sea Nomad is a real example of the philosophy of living efficiently and at peace with the environment, especially the maritime area.Keywords: beyond ecology; modernity; new typology; sea tribes.Abstrak Perkembangan kota sekarang ini tidak segalanya mengarah kearah positif. Karena pertumbuhan kota yang terlalu cepat dan tidak terencana dapat menimbulkan perubahan terhadap pola hidup, pengetahuan, lokalitas, identitas, dll. Suku Laut merupakan masyarakat yang dikenal biasa hidup di atas sampan yang dinamakan kajang. Namun sejak tahun 1990-an, Suku Laut ditempatkan pada posisi yang marjinal dan juga tidak mengenal peradaban dan modernitas, sehingga dikategorikan sebagai suku terasing. Oleh sebab itu, Suku Laut menjadi sasaran dalam agenda pemerintah, yaitu dengan membatasi akses mereka terhadap laut dan membuatkan pemukiman untuk mereka. Hal itu memaksa Suku Laut untuk menjalani pola hidup yang berbeda dengan yang dulu biasa mereka jalani, membawa diri mereka kepada kesadaran baru “kesadaran sebagai Suku Laut yang mendarat” dan menyebabkan munculnya nilai-nilai baru, perubahan spatial behavior (livehood, organisasi sosial, dll). Proyek ini menggunakan metode hibrida dengan parameternya, yaitu Filosofi Simbiosis Suku Laut dan Beyond Ecology yang diterapkan didalam perancangan. “Neo-Kajang” artinya “Melampaui-Kajang”, Kajang merupakan istilah dari tempat tinggal Suku Laut, Sedangkan “Tipologi Baru Pemukiman Ekologis Suku Laut”, berarti mengadaptasi perjalanan dan cara hidup Suku Laut ke dalam tipologi yang baru untuk menjawab tantangan zaman. Proyek ini juga diharapkan mampu mengangkat cara hidup Suku Laut dalam menghadapi perubahan zaman dimana sejatinya. Suku Laut merupakan salah satu contoh nyata tentang filosofi hidup effisien dan berdamai dengan lingkungan, khususnya wilayah kemaritiman.  

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here