z-logo
open-access-imgOpen Access
AIR-CHITECTURE: SEBUAH DESAIN BANGUNAN DENGAN PURIFIKASI UDARA SECARA TEKNIS DAN PUITIS DALAM KONTEKS BERHUNI
Author(s) -
Nicholas Andreas Wibowo,
Alvin Hadiwono
Publication year - 2021
Publication title -
jurnal sains, teknologi, urban, perancangan, arsitektur
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6263
pISSN - 2685-5631
DOI - 10.24912/stupa.v3i1.10748
Subject(s) - architecture , air pollution , pollution , process (computing) , environmental planning , nature versus nurture , business , architectural engineering , political science , sociology , history , engineering , environmental science , computer science , ecology , biology , archaeology , operating system , anthropology
The world has evolved rapidly since the time of the industrial revolution, this progress has also been followed by destruction of nature. Jakarta has the worst air quality compared to other cities. Most of Jakartans are continuously exposed to air pollution because of its mobile lifestyle. Air pollution has claimed lives all over the world, not excluding Jakarta, where people will be faced with deteriorating health, respiratory diseases, and unsecured survival. This makes air pollution an unavoidable threat, which will only grow worse in the future. A question of survival arises, can architecture help humans dwells the city with air pollution? The answer to this question is the main goal of this project;  Creating dwelling vessels for city dwellers to be purified from air pollution. Perceptions and the environment needs to be purified from pollution in order to achieve the ideal dwelling. The purification must be able to reach humans from its basic essence, the physical aspect (body) and the non-physical aspect (mind); which means that purification in architecture needs to be carried out in two ways; technically and poetically, where technical purification means creating air free from pollution, and poetic purification means creating experiences that frees the mind from 'pollution'. Through this experience, it is hoped that humans can re-interpret the crucial role of the environment and clean air in the process of dwelling, as well as respecting and protecting the environment. Because when a man thinks of the mortality of mankind, therefore he’ll nurture the sacred mortality of lifes. Keywords:  Architecture; Air; Dwelling; Pollution; PurificationAbstrakDunia tempat tinggal manusia telah berkembang pesat sejak masa revolusi industri, namun kemajuan ini juga diikuti oleh kerusakan alam yang mematikan. Jakarta adalah titik polusi udara terparah di Indonesia dimana sebagian besar penduduknya selalu terpapar polusi udara karena gaya hidupnya yang bermobilitas tinggi. Polusi udara telah merenggut banyak jiwa di seluruh dunia, tidak terkecuali Jakarta, dimana di masa depan penduduknya akan dihadapi oleh kesehatan yang memburuk, penyakit pernafasan, hingga kelangsungan hidup yang tidak terjamin. Hal ini menjadikan polusi udara sebagai ancaman yang tidak dapat dihindari yang hanya akan memburuk kedepannya. Timbul sebuah pertanyaan tentang kelangsungan hidup, dapatkah arsitektur membantu manusia berhuni di tengah kota dengan polusi udara? Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi tujuan dari tulisan ini; Menciptakan wadah berhuni bagi penduduk kota untuk dimurnikan dari polusi udara. Persepsi dan Lingkungan manusia perlu dimurnikan dari polusi untuk dapat mencapai proses berhuni yang ideal.  Proses purifikasi harus dapat menjangkau manusia dari esensi dasarnya, yaitu aspek fisik (tubuh), dan aspek non-fisik (pikiran); yang berarti purifikasi dalam arsitektur perlu dilakukan dalam 2 cara, yaitu secara teknis dan secara puitis, dimana purifikasi teknis berarti menciptakan udara bersih bebas dari polusi, dan purifikasi puitis berarti menciptakan pengalaman yang menjernihkan pikiran dari ‘polusi’. Melalui pengalaman purifikasi ini, diharapkan manusia dapat kembali memaknai peran krusial dari lingkungan dan udara bersih dalam proses berhuni, juga menghormati dan menjaga lingkungan. Karena ketika manusia sadar akan kefanaan bumi dan dirinya, niscaya ia akan menjaga kelangsungan hidup dalam kefanaannya.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here