z-logo
open-access-imgOpen Access
RUANG PUBLIK PENGEMBANGAN DIGITAL DAN KULINER MASYARAKAT KOTA BAMBU SELATAN DENGAN PENDEKATAN RUANG KETIGA
Author(s) -
Hebert Nathan Widjaja,
Doddy Yuono
Publication year - 2020
Publication title -
jurnal sains, teknologi, urban, perancangan, arsitektur
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6263
pISSN - 2685-5631
DOI - 10.24912/stupa.v2i2.8627
Subject(s) - poverty , luck , sympathy , unemployment , quality (philosophy) , sociology , political science , economic growth , economics , psychology , social psychology , philosophy , theology , epistemology
Jakarta is a capital known as the economic center and has the attraction to try one's luck by coming and looking for work so that the problem arises, namely the clumping of labor. The large number of workers coming to Jakarta has led to new problems, namely poor quality such as education and morals. The low level of education of individuals who come this causes a low standard of living which raises other problems, namely social problems such as rising unemployment, increasing poverty, raising slums, and increasing crime. Kota Bambu Selatan community views education as something that is not important. Kota Bambu Selatan community prefers to go directly to the community to work, but in reality the community in general makes education as a benchmark for how someone is able to work well. Excessive labor and time, but the lack of adequate facilities can lead to increased disparities in society. From this problem, the provision of Third Place is expected to accommodate the community of Kota Bambu Selatan so as to improve the quality of life of the people of Kota Bambu Selatan. By providing open areas, it is also hoped that the Kota Bambu Selatan community will be able to interact with each other so as to foster a sense of sympathy and empathy. Keywords : Education; Human Resource; Poverty; Public SpaceAbstrakJakarta merupakan ibukota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan memiliki daya tarik untuk mengadu nasib dengan datang dan mencari pekerjaan sehingga muncul permasalahan yaitu terjadinya penggumpalan tenaga kerja. Banyaknya tenaga kerja yang datang ke Jakarta ternyata memunculkan  masalah baru, yaitu rendahnya kualitas seperti pendidikan dan moral. Rendahnya tingkat pendidikan dari individu yang datang ini menyebabkan rendahnya taraf hidup yang dimana memunculkan permasalahan lainnya, yaitu memunculkan masalah-masalah sosial seperti meningkatnya pengangguran, meningkatnya kemiskininan, memunculkan daerah-daerah kumuh, dan meningkatnya kriminalitas. Masyarakat Kota Bambu Selatan memandang pendidikan merupakan sesuatu yang tidak penting. Masyarakat Kota Bambu Selatan lebih memilih untuk terjun langsung ke masyarakat untuk bekerja, namun pada kenyataannya masyarakat pada umumnya menjadikan pendidikan sebagai tolak ukur bagaimana seseorang mampu untuk bekerja dengan baik. Tenaga dan waktu yang berlebih, namun kurangnya fasilitas yang memadai dapat menyebabkan meningkatnya kesenjangan pada masyarakat. Dari masalah tersebut, penyediaan Third Place diharapkan dapat mewadahi masyarakat Kota Bambu Selatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Bambu Selatan. Dengan penyediaan area tebuka, diharapkan juga masyarakat Kota Bambu Selatan dapat berinteraksi satu dengan lainnya sehingga dapat menumbuhkan rasa simpati dan empati.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here