
PAVILIUN KEBUDAYAAN BETAWI
Author(s) -
Felicia Setiawan,
Sidhi Wiguna Teh
Publication year - 2020
Publication title -
jurnal sains, teknologi, urban, perancangan, arsitektur
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6263
pISSN - 2685-5631
DOI - 10.24912/stupa.v2i1.6767
Subject(s) - studio , sociology , cultural center , center (category theory) , public space , space (punctuation) , meaning (existential) , recreation , entertainment , visual arts , media studies , psychology , computer science , architectural engineering , engineering , art , political science , chemistry , law , psychotherapist , crystallography , operating system
Most people are trapped by their monotonous activities, they tend to look for more practical entertainment through smart phones, the internet or television. That might reduce the real meaning of social interaction. The existence of public space itself is one of many factors that encourgage people to do social interaction. Therefore, as what the author has read in a literature study, that third place able to be one of the bridges of social interaction. Third Place provides a catalyst space between home and work, making the third place a comfortable haven. Third Place is not a place of work or home, but a place to relax that can allow you to have a open community life. The selection of a cultural center as a third place because the cultural center can pour various expressions of human needs, dreams and desires. In addition, the location of the site is next to Taman Ismail Marzuki. Seeing that there are several programs that cannot be accommodated by Taman Ismail Marzuki and the need to reintroduce Betawi cultural values that are starting to fade in the present, encouragge us to create programs that can support this. The design method used by this project is the dis-programming method, a program that is mutually contaminating with other programs, The location is close to the education center and cultural the center which drives both programs to support one another, here the writer combines programs in the cultural center with educational programs such as dance studios, music studios and libraries. AbstrakSebagian besar masyarakat terjebak dengan aktivitas mereka yang monoton, mereka cenderung mencari hiburan yang lebih praktis melalui ponsel pintar, internet atau televisi. Hal tersebut mengurangi esensi dari interaksi sosial yang seharusnya dilakukan. Keberadaan ruang publik sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi sosial. Oleh karena itu penulis melakukan studi literatur, berdasarkan hasil studi penulis dapat menyimpulan bahwa third place dapat menjadi salah satu jembatan interaksi sosial. Third Place menyediakan ruang katalis antara rumah dan tempat kerja, menjadikan third place sebagai tempat singgah yang nyaman. Third Place bukanlah tempat kerja ataupun rumah, melainkan tempat bersantai yang dapat memungkinkan kehidupan komunitas yang terbuka. Pemilihan pusat kebudayaan sebagai third place dikarenakan pusat budaya dapat menuangkan berbagai ekspresi kebutuhan manusia, mimpi dan keinginan. Selain itu, lokasi tapak berada disebelah Taman Ismail Marzuki. Melihat ada beberapa program yang belum dapat diakomodir oleh Taman Ismail Marzuki dan perlunya pengenalan kembali akan nilai-nilai budaya betawi yang mulai pudar di zaman sekarang, mendorongnya diciptakan program – program yang dapat mendukung hal tersebut. Metode perancangan yang digunakan proyek ini adalah metode dis-programming, program yang sifatnya saling mengkontaminasi dengan program lainnya. Letak tapak yang dekat dengan pusat pendidikan dan pusat kebudayaan mendorong terjadinya program yang saling mendukung satu sama lain, disini penulis menggabungkan program yang ada di pusat kebudayaan dengan program pendidikan seperti studio tari, studio musik dan perpustakaan.