
PUSAT REHABILITASI KAUM MILENIAL DEPRESI DI JAGAKARSA
Author(s) -
Aghnia Lovita,
Andi Surya Kurnia
Publication year - 2020
Publication title -
jurnal sains, teknologi, urban, perancangan, arsitektur
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6263
pISSN - 2685-5631
DOI - 10.24912/stupa.v1i2.4458
Subject(s) - mental health , depression (economics) , psychiatry , medicine , stigma (botany) , psychology , macroeconomics , economics
Millenials are this generation’s young adults who are very vulnerable to an anxiety and depression, which if this disorder no immediately treated, it would impact to psychiatric disorders (schizophrenia and even suicide). However, many mild – depressed people doesn’t want to seek treatment immediately because lack of knowledge about depression so there’s negative stigma. There are many assumptions where depression is considered “crazy” so which then that patients don’t seek any help, close themselves, and deny. In fact, a few mental hospital in Indonesia doesn’t even meet the proper standards to be called a recovery center. But, seeing from the side of psychology, environment factor has a huge role in recovery process. Therefore, there is a need for a vessel of support for those people who need help on mental health and realizing a comfortable environment for those who are recovering. And improving the perspective of people on the negative stigma about mental disorder and supporting the realization of a strong, comfortable social relation between people and depression sufferers. By using healing environment method, Sanctuary for Depression aims to respond toward all problems which patients acquire a various of health facilities which are needed accordingly and a broader knowledge about depression, so that the negative stigma which has been planted for a long time could be corrected. Abstrak Milenial merupakan generasi yang sangat rentan terkena gangguan kecemasan dan depresi dimana bila tidak segera ditangani akan berdampak serius (skizofrenia hingga bunuh diri). Tetapi, banyak penderita depresi ringan atau sedang yang tidak mau langsung berobat dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap depresi sehingga munculnya stigma negatif. Banyaknya asumsi dimana depresi dianggap “gila” sehingga penderita tidak mencari pertolongan, menutup diri, dan menyangkal. Bersamaan dengan itu juga, kurangnya fasilitas dan perhatian serius terhadap masalah kesehatan mental (depresi) yang ada di Indonesia. Beberapa rumah sakit jiwa di Indonesia bahkan tidak layak untuk digunakan sebagai tempat pemulihan. Sedangkan dilihat dari sisi psikologis, faktor lingkungan memiliki peran besar dalam proses penyembuhan. Maka dari itu, dibutuhkannya wadah yang memberikan support kepada masyarakat akan kesehatan mentalnya dan mewujudkan lingkungan yang nyaman untuk penderita gangguan mental dalam berobat. Serta meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperbaiki stigma terhadap gangguan mental sehingga mendukung terjadinya ikatan sosial yang kuat dan nyaman antara masyarakat dan penderita depresi. Dengan menggunakan metode healing environment, maka Pusat Rehabilitasi Kaum Depresi bertujuan untuk menyikapi semua masalah tersebut dimana pasien mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan yang sesuai dibutuhkan dan pengenalan lebih luas mengenai depresi kepada masyarakat sehingga memperbaiki stigma yang sudah tertanam sejak lama.