z-logo
open-access-imgOpen Access
Masyarakat dan Kearifan Budaya Lokal (Bentuk Pela Masyarakat di Negeri Batu Merah Kota Ambon Pasca Rekonsiliasi)
Author(s) -
Osbert Montana,
Riris Loisa,
Lusia Savitri Setyo Utami
Publication year - 2019
Publication title -
koneksi
Language(s) - Uncategorized
Resource type - Journals
ISSN - 2598-0785
DOI - 10.24912/kn.v2i2.3930
Subject(s) - humanities , sociology , political science , philosophy
Konflik Maluku yang berlangsung selama lebih dari empat tahun, tidak saja memperburuk hubungan-hubungan kemanusiaan atau hubungan lintas agama, hubungan agama dan masyarakat, tetapi juga meperlihatkan retaknya kehidupan masyarakat Maluku secara keseluruhan. Keadaan ini membuat agama kehilangan momentum untuk menjadikan agama yang melayani dan membebaskan manusia. Situasi seperti ini menjadi masalah serius ketika agama harus mengambil sikap terhadap pluralisme. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan sebuah toleransi untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Maluku khususnya Ambon menjadi salah satu daerah yang memelihara toleransi dan kerukunan dengan jumlah penduduk 50% beragama Kristen dan 50% lainnya beragama Islam. Dahulu, konflik perbedaan bukan sebuah masalah di Maluku karena komunikasi yang sangat kuat. Namun kini masyarakat Ambon kembali seperti dahulu dalam berinteraksi, baik dengan yang seagama maupun dengan yang berbeda agama. Perbedaan hampir sudah tidak terlihat lagi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Negosiasi Muka oleh Stella Ting-Toomey. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus dan dengan tujuan untuk mengetahui peran dari kearifan budaya lokal Pela dalam komunikasi antar budaya umat beragama kota Ambon komunikasi seperti apa yang terjadi antara masyarakat di Ambon yang berbeda agama dan melihat bentuk-bentuk Pela masyarakat pasca rekonsiliasi sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi hubungan saling membahagiakan atau hubungan yang sangat positif antar masyarakat (Kristen-Islam) di Ambon serta bersepakat untuk bersama-sama mengurangi penderitaan sehingga tidak terjadi konflik seperti yang telah terjadi sebelumnya.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here