z-logo
open-access-imgOpen Access
ANALISIS PERBANDINGAN PENURUNAN FONDASI DANGKAL DI TANAH GAMBUT DENGAN STABILISASI KAPUR DAN ABU SEKAM PADI
Author(s) -
Aviva Stevani,
Chaidir Anwar Makarim
Publication year - 2021
Publication title -
jurnal mitra teknik sipil
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2622-545X
DOI - 10.24912/jmts.v0i0.11099
Subject(s) - peat , soil water , lime , forestry , population , bearing capacity , settlement (finance) , physics , geography , environmental science , geotechnical engineering , geology , soil science , materials science , archaeology , metallurgy , demography , sociology , world wide web , computer science , payment
The increase in housing needs is in line with the increase in the population. Residential buildings in Indonesia are only about 1-2 floors, which require shallow foundations to support. Land is one of the important aspects, where it supports the entire building that stands on it. One of the development constraints encountered in Kalimantan is the peat soil. The construction on peatland will cause problems such as low bearing capacity and large deformation, therefore it needs improvement before use. This study aims to find out the overview of shallow foundation settlement  with a size of 2 m x 2 m with a depth of 1 m in untreated soils with a thickness of 6 m and in stabilized peat soils. Stabilization used by 10% of the dry weight of the soil with a content of 30% lime + 70% ash husk rice. Calculation of the settlement in stabilized peat soil, there’re 5 variations of stabilization thickness ranging from 2 m – 6m. Within 30 years, the total settlement of untreated peat soil by 1,25828 m, as well as for stabilizing peat soils with a thickness of 2 m - 6 m experienced a total settlement of 0,534587 m to 0,379714 m. Peningkatan kebutuhan rumah tinggal selaras dengan peningkatan jumlah penduduk. Pada umumnya bangunan rumah tinggal di Indonesia hanya berkisar 1- 2 lantai, dimana membutuhkan fondasi dangkal untuk menopang beban. Tanah merupakan salah satu aspek penting, dimana tanah menopang seluruh bangunan yang berdiri diatasnya. Salah satu kendala pembangunan yang ditemui di Kalimantan adalah lapisan tanah gambut. Pembangunan bangunan diatas tanah gambut akan menimbulkan masalah seperti daya dukung yang rendah serta penurunan yang besar, maka dari itu perlu perbaikan sebelum digunakan. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui sebuah gambaran mengenai penurunan fondasi dangkal dengan ukuran 2 m x 2 m dengan kedalaman 1 m pada tanah gambut asli  (untreated soil) dengan ketebalan 6 m serta pada tanah gambut yang telah distabilisasi. Stabilisasi yang digunakan sebesar 10% dari berat kering tanah dengan kadar 30% kapur + 70% abu sekam padi. Perhitungan penurunan pada tanah gambut yang telah distabilisasi, ada 5 variasi ketebalan stabilisasi mulai dari 2 m – 6m. Dalam jangka waktu 30 tahun, penurunan total tanah gambut asli sebesar 1,25828 m, serta untuk tanah gambut stabilisasi dengan ketebalan 2 m – 6 m mengalami penurunan total sebesar 0,534587 m sampai 0,379714 m. 

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here