
PEMANFAATAN LAHAN BEKAS TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR DENGAN STABILISASI TANAH SECARA KIMIAWI
Author(s) -
Satya Bodhinanda,
Aniek Prihatiningsih
Publication year - 2021
Publication title -
jurnal mitra teknik sipil
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2622-545X
DOI - 10.24912/jmts.v0i0.10700
Subject(s) - environmental engineering , environmental science , waste management , engineering
Landfill soil (TPA) has great potential of utilization in construction purpose. Landfill soil has similar characteristic with clay soil that has high water content also contain organic and inorganic material caused by garbage heap. One of the problem in utilizing landfill soil was the low quality of the soil that cause big settlement for the structure. Settlement was an important aspect in performing a construction. Soil stabilization for the landfill soil needed to decrease amount of settlement. Structure model using one, two, three, four floor of load and calculate the settlement occur on the heaviest load location of the foundation. Foundation base was circle and using shallow foundation reconsidering shallow foundation effective for four floor load. Chemical stabilization using 2 methods: Sodium Hydroxide 6% and Limestone 3-4,5%. Based on the calculation, found that Sodium Hydroxide is more effective in decreasing settlement occurred and able to decrease the settlement until 32,42% for the floor load. However, those methods can’t fulfil the 15 cm settlement limit. Tanah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam bidang konstruksi. Tanah bekas TPA umumnya memiliki karakteristik serupa dengan tanah lempung berkadar air serta memiliki material organik dan anorganik dari timbunan sampah. Salah satu masalah dalam memanfaatkan tanah bekas TPA adalah rendahnya kualitas tanah yang mengakibatkan penurunan besar pada struktur. Perbaikan pada tanah bekas TPA diperlukan untuk mengurangi besarnya penurunan yang terjadi. Penurunan merupakan aspek penting dalam suatu perancangan konstruksi, maka dari itu batasan pada penurunan ditetapkan untuk menghindari penurunan yang berlebihan yang dapat merusak struktur. Permodelan menggunakan beban struktur 1,2,3, dan 4 lantai dan dihitung penurunan yang terjadi pada fondasi dengan beban struktur terbesar. Penampang fondasi berbentuk lingkaran mempertimbangkan beban percobaan hingga 4 lantai cocok untuk fondasi dangkal. Stabilisasi tanah secara kimiawi menggunakan 2 metode yaitu Sodium Hidroksida 6% dan batu kapur 3-4,5%. Berdasarkan hasil perhitungan, didapati stabilisasi menggunakan Sodium Hidroksida lebih efektif dalam mengurangi penurunan tanah yang terjadi dan mampu mengurangi besarnya penurunan hingga 32,42% pada beban struktur 4 lantai. Namun, stabilisasi tanah menggunakan kedua metode belum dapat mencapai batas aman penurunan sebesar 15 cm.