
FUNGSI TARI BARIS POLENG KETEKOK JAGO DI DESA DARMASABA KABUPATEN BADUNG
Author(s) -
Nyoman Triyana Usadhi
Publication year - 2020
Publication title -
joged
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2655-3171
pISSN - 1858-3989
DOI - 10.24821/joged.v13i2.3600
Subject(s) - humanities , art
Tari Baris Poleng Katekok Jago adalah tari tradisi Bali yang berbentuk komposisi tari kelompok dengan ciri berbaris, berderet, dan berjajar. Disebut Baris Poleng Ketekok Jago karena busana dan asesori yang dipakai didominasi oleh loreng “poleng” hitam dan putih. Dalam kehidupan beragama Hindu di Bali disebutkan ada tiga jenis kain poleng yakni: saput poleng rwabhineda, saput poleng sudamala, dan saput poleng tridatu. Aplikasi busana poleng dalam Baris Poleng Katekok Jago lebih didominasi oleh penggunaan poleng rwabineda dan poleng sudhamala. Poleng rwabineda berbentuk strip melintang sebagai hiasan pada desain kaki celana dan lengan baju; sedangkan poleng sudhamala menjadi hiasan pada saput seperti kain poleng tridatu, kain-kain kuno seperti cepuk, gringsing dan sejenisnya, menjadi hiasan tambahan yang kuat memberikan kesan angker dan kuno pada tampilan figur dari masing-masing penarinya. Hal-hal inilah yang menjadikan Baris Poleng Katekok Jago di Desa Tegal Darmasaba menjadi unik dan istimewa. Dalam penelitian ini, antropologi menjadi ilmu untuk membedah masalah yang terjadi di dalam suatu kelompok masyarakat. Masyarakat pendukung memiliki hubungan erat dengan pemahaman mengenai fungsi suatu tari dalam upacara keagamaan. Tari Baris Poleng Katekok Jago sebagai produk kebudayaan yang terkait dengan ritual keagamaan Agama Hindu Bali. Fungsi sebagai kenyataan sosial yang harus dicari dalam hubungannya dengan tujuan sosial. Fungsi dari setiap bagian ialah memelihara hidup itu. Menurut Malinowski dan J. van Baal fungsi kebudayaan adalah harus memenuhi kebutuhan integratif, seperti agama dan kesenian. Dalam konsep rwabhineda sangat erat kaitannya dengan pemahaman Spiro bahwa fungsi menentangkan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal lain dalam satu sistem yang terintegrasi. Fungsi integratif ini demikian melekat pada Tari Baris Poleng Katekok Jago dan agama Hindu Bali, sehingga sifat integratif ini melahirkan hubungan kedekatan antar religi dan kesenian yang oleh masyarakat Hindu Bali diekspresikan sebagai kewajiban manusia. Tari Baris Poleng Katekok Jago merupakan tari wali berfungsi sebagai tarian dalam upacara Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya. Tari Baris ini menggunakan gerakan dan tata busana yang sederhana. Tari ini juga merupakan tari sakral yang digunakan pada upacara yadnya pada tingkatan Madya dan tingkatan Utama sebagai simbol dari kesatria yang mengawal turunnya Para Dewa ke bumi di setiap upacara Dewa Yadnya, seperti Karya Ngenteg Linggih, Karya Padudusan Agung, Karya Padudusan Alit dan sebagainya. Tari Baris Poleng Katekok Jago di desa Tegal Darmasaba dalam upacara Pitra Yadnya (ngaben), hanya diperuntukkan bagi kaum yang memiliki kasta (catur warna) tertinggi. Penari Baris Poleng Katekok Jago menjadi perajurit yang mengawal arwah menuju tujuan akhirnya. Baris Poleng Katekok Jago Dance in Tegal Darmasaba Village Badung Regency is a Balinese traditional dance in the form of dance group composition with character of marching, lined, and lined. Called Polis Katekok Jago caused by the dominance of the use of clothing and accessories black and white "poleng". In the Hindu life in Bali mentioned there are three types of poleng cloths: poleng rwabhineda cloth, poleng sudamala cloth, and poleng tridatu cloth. The type of poleng application in Baris Poleng Katekok Jago clothing is more dominated by the use of poleng rwabineda and poleng sudhamala. Rwabineda pods cross-shaped strips as decoration on the design of the pants leg and sleeve; while the sudhamala pans become a decoration on the membranes such as tridatu cloth, ancient fabrics such as cepuk, gringsing and the other kinds, to be a powerful additional decoration giving the impression of austere and old-fashioned appearance of each of the dancers. These are the things that make Baris Poleng Katekok Jago in Tegal Darmasaba Village become unique and special. In this study, anthropology becomes the science to dissect the problems that occur within a community group. The support community has a close relationship with the understanding of the function of a dance in a religious ceremony. Baris Poleng Katekok Jago Dance as a cultural product associated with religious rituals Hindu Religion Bali. Function as a social reality to look for in relation to social goals. The function of each part is to maintain that life. According to Malinowski and J. van baal the function of culture is to meet the integrative needs, such as religion and art. In the concept of rwabhineda is closely related to Spiro's understanding that the function of opposing relationships takes place between one thing and another in an integrated system. This integrative function is so inherent in the Baris Poleng Katekok Jago dance and the Balinese Hindu religion, so this integrative character gives birth to the interrelationship between religion and art which by Balinese Hindu society is expressed as human obligation. Tari Baris Poleng Katekok Jago dance is a guardian dance serves as a dance in the ceremony Pitra Yadnya and Dewa Yadnya. This line dance uses simple movements and clothing. Baris Poleng Katekok Jago dance is a sacred dance used in yadnya ceremony at the level of Madya and Utama level as a symbol of the knights who guard the descendants of the gods to the earth in every ceremony of the Dewa Yadnya, such as Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Padudusan Alit, and so on. Baris Poleng Katekok Jago dance in the village of Tegal Darmasaba in ceremony Pitra Yadnya (Ngaben), only for the people who have the highest caste (catur warna). Baris Poleng Katekok Jago became a soldier guarding the spirit toward its final destination.