
BAWINE: KARYA TARI YANG TERINSPIRASI PADA CITRA PEREMPUAN BUTON
Author(s) -
Waode Muriani Ekasari Virno Bolu
Publication year - 2020
Publication title -
joged
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2655-3171
pISSN - 1858-3989
DOI - 10.24821/joged.v13i2.3598
Subject(s) - dance , art , humanities , gender studies , sociology , literature
Bawine dalam bahasa Buton berarti perempuan. Karya tari ini terinspirasi dari sosok perempuan Buton yang ditulis dalam buku Perempuan dalam Khabanti yang sangat ingin melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya tetapi dibatasi oleh aturan tradisi yang tidak membolehkan wanita bekerja, bersekolah, dan menentukan jodohnya sendiri. Karya ini juga dikaitkan dengan keadaan perempuan Buton saat ini yang bebas menentukan jalan hidup dan memilih hak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tari Bawine ditarikan oleh tiga penari wanita yang masing-masing memiliki peran masing-masing. Penari pertama menggambarkan perempuan yang masih terkungkung, penari kedua menggambarkan wanita tradisi yang menjadi pisau bedah untuk ke luar dari aturannya, dan penari ketiga menggambarkan perempuan dari generasi sekarang yang bebas menentukan pilihannya. Bawine is a Buton language which means female. This dance work is inspired by the female figure of Buton written in the book Perempuan in Khabanti, who is keen to do everything with his desire but is limited by traditional rules that do not allow women to work, go to school, and determine their own soul mates. This work is also associated with today's women who are free to determine the way of life and choose the right to continue their education at a higherlevel. Bawine dance is danced by three female dancers who each have their roles / characters. 1) dancers who describe their constraints, 2) dancers who describe traditional women who become scalpels to get out of their rules, and 3) dancers who describe women who have been associated with the present who are free to make their choices.