z-logo
open-access-imgOpen Access
MUO BAKASAI: UPACARA BALIMAU KASAI DALAM KARYA TARI
Author(s) -
Rizki Oktaviani
Publication year - 2020
Publication title -
joged
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2655-3171
pISSN - 1858-3989
DOI - 10.24821/joged.v13i2.3596
Subject(s) - humanities , art , ceremony , philosophy , theology
Karya Muo Bakasai terinspirasi dari sebuah upacara tradisi Balimau Kasai di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Balimau kasai merupakan sebuah upacara sebagai sarana penyucian diri, dan juga sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan ungkapan kegembiraan menyambut datangnya bulan Ramadan, yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kampar di tepian Sungai Kampar. Tradisi ini juga dijadikan sebagai sarana silaturahmi untuk memperkuat rasa kekeluargaan dan persaudaraan antar sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf. Tradisi ini diawali dengan menyiapkan bahan ramuan yang akan digunakan untuk mandi yaitu air rebusan limau dan kasai. Kasai adalah ramuan wangi-wangian yang digunakan sebagai pelengkap mandi Balimau ini. Karya tari ini menggunakan tipe tari dramatik dengan pola garap koreografi kelompok delapan penari, empat penari putra dan empat penari putri, sebagai simbolisasi masyarakat yang melaksanakan tradisi Balimau Kasai. Bentuk penyajian karya ini adalah simbolis representasional, dengan tipe dramatik yang terdiri empat adegan yakni, introduksi, adegan satu, adegan dua dan adegan tiga. Gerak-gerak dalam karya ini disesuaikan dengan tema tentang penyucian diri dan kebersamaan, juga menggunakan beberapa unsur-unsur gerak dalam tari poncak daerah Kampar sebagai pola gerak dasar dalam karya ini. Muo Bakasai's work was inspired by a Balimau Kasai tradition ceremony in Kampar regency, Riau Province. Balimau kasai is a ceremony as a means of self-purification, and also as a form of gratitude and expression of joy to welcome the coming of Ramadan, conducted by indigenous Kampar Regency on the banks of Sungai Kampar. This tradition is also used as a means of friendship to strengthen the sense of kinship and fraternity among fellow Muslims by visiting each other and apologize. This tradition begins by preparing the ingredients that will be used to bathe the water of lime and chilli stew. Kasai is a perfumed herb used as a complement to this Balimau bath. The form of presentation of this work is symbolically representational. This work is packed with a dramatic type of dance, with four scenes namely introduction, scene one, scene two and scene three. The movements in this work are adapted to the theme of self-purification and togetherness, and also use some elements of motion in the Kampar Poncak dance as the basic motion pattern in this work.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here