
Eco Art Bamboo and Silat Spirituality in the Integrated Space Design
Author(s) -
Widya Poerwoko
Publication year - 2020
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2406-9760
DOI - 10.24821/ijcas.v6i2.3424
Subject(s) - ecocriticism , harmony (color) , geography , humanities , political science , environmental planning , environmental ethics , art , philosophy , visual arts
Today environmental damage has become an alarming issue. Such a problem also occurs at Sleman located in the foot of Mount Merapi, Yogyakarta. Illegal sand mining around settlements has resulted in shrinking plant populations and damage to land use, which has resulted in decreased groundwater and surface water. Environmental damage begins with fragmentation in people’s worldview resulting from the emerging humanism-ecology, knowledge-values, and the body-spirituality separations. Pencak silat, as an indigenous Indonesian martial art that is subject to the harmony between humans and the natural environment in which they live, can inspire the awareness of local people to reconsider the habits harmful to the environment and nature. The Integrated Space Design as an aesthetic manifestation of Eco-Art is an artwork created to address environmental problems occurring in the foothills of Mount Merapi by creating a space that bridges the interactions between humans, between humans and their artificial environment, and between humans and the surrounding natural environment by using bamboo plants as the main media, and silat spirituality as the primary inspiration the local community’s capacity of living, both ecologically and spiritually. ABSTRAK Perubahan iklim dalam fenomena Global Warming penting diperhatikan. Meski peristiwa tersebut sulit dibayangkan oleh masyarakat pedesaan, namun faktanya fenomena tersebut telah mengakibatkan para petani mengalami kegagalan panen dan hampir tidak dapat lagi memprediksi waktu tanam. Di luar fenomena tersebut, persoalan lingkungan juga terjadi di kaki Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta. Penambangan pasir di pemukiman, telah mengakibatkan menyusutnya populasi tumbuhan dan rusaknya tata guna lahan, sehingga berdampak pada menurunnya permukaan air tanah dan air permukaan. Kerusakan lingkungan berawal dari terpecahnya cara pandang orang akibat dari munculnya pembedaan antara humanisme dengan ekologis, pengetahuan dengan nilai-nilai, dan tubuh dengan spiritualitas. Pencak silat, sebagai seni bela diri Indonesia yang tunduk pada keselarasan antara manusia dengan lingkungan alam tempat hidupnya, dapat menggugah kesadaran orang setempat untuk mempertimbangkan kembali kebiasaannya yang dapat merugikan lingkungan dan alam. Integrated Space Design sebagai manifestasi estetis Eco Art, merupakan karya seni yang diciptakan untuk menjawab persoalan lingkungan yang terjadi di kawasan kaki Gunung Merapi, yaitu dengan mewujudkan ruang, wadah atau jembatan interaksi antar manusia, manusia dengan lingkungan buatannya dan alam seputar hidupnya, dengan menggunakan tanaman bambu sebagai medium utamanya, dan spiritualitas silat sebagai inspirasinya sehingga dapat melestarikan daya hidup masyarakat setempat, baik secara ekologis maupun spiritual.