
PENGARUH CARA PENGOLAHAN BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP EFEK ANTITROMBOTIK PADA MENCIT
Author(s) -
Prillye Deasy Octaviantie,
Sri Purwaningsih,
Arifoel Hajat
Publication year - 2017
Publication title -
jks/jks (jurnal kedokteran syiah kuala)
Language(s) - Uncategorized
Resource type - Journals
eISSN - 2550-0112
pISSN - 1412-1026
DOI - 10.24815/jks.v17i3.9064
Subject(s) - physics , humanities , philosophy
ABSTRAK.Bawang putih (Allium sativum) telah terbukti memiliki banyak efek positif untuk kesehatan, antara lain antibakteri, antivirus, antijamur dan juga antioksidan. Selain itu, bawang putih juga memiliki beragam efek positif untuk sistem kardiovaskular, antara lain menyebabkan penurunan tekanan darah, mencegah terjadinya aterosklerosis, dan juga bersifat antitrombotik. Salah satu obat antitrombotik yang umum digunakan oleh masyarakat adalah aspirin. Aspirin bekerja dengan cara menghambat pembentukan tromboksan A2. Komponen antitrombotik yang dimiliki bawang putih adalah allisin, yang bekerja dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara menghambat jalur pembentukan tromboksan A2 dan ADP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas bawang putih mentah, rebus, dan goreng bila dibandingkan dengan aspirin. Desain dari peneltian ini adalah eksperimental laboratoris dengan 8 (delapan) kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol negative (CMC 1%), kontrol positif (Aspirin), kelompok bawang putih mentah dosis tinggi, bawang putih mentah dosis rendah, bawang putih rebus dosis tinggi, bawang putih rebus dosis rendah, bawang putih goring dosis tinggi, dan bawang putih goreng dosis rendah. Setiap kelompok terdiri dari 5 (lima) mencit yang akan menerima perlakuan dalam 1 (satu) bulan. Pada hari ke 30, waktu perdarahan dari setiap mencit akan diukur dengan cara memotong ekor mencit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok kontrol positif (aspirin) memiliki waktu perdarahan terpanjang, disusul dengan kelompok bawang putih mentah dosis tinggi. Di peringkat ketiga ada kelompok kontrol negative (CMC 1%) dan kelompok bawang putih mentah dosis rendah yang memiliki waktu perdarahan yang sama. Sementara itu, kelompok bawang putih rebus dan goreng, baik pada dosis tinggi maupun rendah, menunjukkan waktu perdarahan yang lebih panjang dibandingkan dengan kelompok kontrol negative (CMC 1%).Pemanjangan waktu perdarahan ini kemungkinan disebabkan karena allisin pada bawang putih yang bersifat termolabil dan terdegradasi dengan peningkatan suhu.