
PERAN LOCAL LEADER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN JATINANGOR
Author(s) -
Aditya Ramadhan,
Muhamad Fedryansyah,
Lenny Meilany
Publication year - 2019
Publication title -
focus
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2620-3367
DOI - 10.24198/focus.v2i1.23114
Subject(s) - forestry , geography , physics
Jatinangor merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadinya bencana banjir . Wilayah ini merupakan kawasan pendidikan dan permukiman padat yang kini berkembang pesat, beda seperti dulu Jatinangor menjadi salah satu wilayah yang sepi penduduk dan masih banyak pesawahan yang terbentang luas. Ada lima desa di Jatinangor yang menjadi langganan terjadinya banjir setiap tahunnya. Banjir yang menerjang lima desa di wilayahnya tersebut memiliki ketinggian 40 s.d. 200 centimeter, dan pada akhir tahun 2017 telah mengakibatkan sebanyak 1.346 rumah terendam air, dengan rincian Desa Hegarmanah dengan jumlah rumah terdampak sebanyak 14 rumah, Desa Cikeruh 221 rumah, Desa Sayang 731 rumah, Desa Mekargalih 317 rumah dan Desa Cipacing sebanyak 63 rumah. Upaya penanggulangan bencana selama ini telah dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun dari masyarakat Jatinangor itu sendiri terutama pemimpin lokal yang disebut sebagai agen perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran pemimpin lokal dalam penanggulangan bencana banjir di Jatinangor. Adapun, metode penelitian yang digunakan adalah kualitif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Informan dari penelitian ini adalah pemimpin lokal yang aktif dan mengetahui penanggulangan bencana yang dilakukan dalam menghadapi banjir. Hasil dari penelitian menggambarkan bahwa peran yang dilakukan pemimpin local dalam penanggulangan bencana yang pertama adalah pengambilan keputusan yang menghasilkan pembentukan JERCY ( Jatinangor Emergency Response Community ), pelatihan dan pengerukan sungai Cikeruh. Kedua, menghubungkan kepada pemerintah maupun non pemerintah terkait bantuan bencana banjir. Ketiga, mengumpulkan sumbangan dana serta membiayai untuk penanggulangan bencana banjir . Keempat, mengevaluasi dan memantau proyek yang terkait dalam penanggulangan bencana. Temuan dilapangan menunjukan peran tersebut berkaitan satu sama lain, dan peran yang paling sering dilakukan adalah menghubungkan dengan Pemerintah maupun non pemerintah. Jatinangor is one of the areas prone to floods. This area is a densely populated education and settlement area that is now growing rapidly, unlike Jatinangor being one of the most populated areas and there are still many stretches of land. There are five villages in Jatinangor that are subscribed to floods every year. The floods that hit five villages in the region had a height of 40 dd. 200 centimeters, and at the end of 2017 has resulted in 1,346 houses submerged in water, with details of Hegarmanah Village with 14 houses affected, 221 houses of Cikeruh Village, 731 Villages of Sayang Village, 317 Villages of Mekargalih Village and 63 houses of Cipacing Village. Disaster management efforts have been carried out so far, both by the local government and the Jatinangor community itself, especially local leaders who are referred to as agents of change. This study aims to describe the role of local leaders in flood management in Jatinangor. Meanwhile, the research method used is qualitative with data collection techniques through interviews, observation and documentation studies. The informants from this study were local leaders who were active and were aware of disaster management in the face of flooding. The results of the study illustrate that the role of local leaders in disaster management is the first is decision making that results in the formation of JERCY ( Jatinangor Emergency Response Community ), training and the dredging of the Cikeruh river. Second, connecting to the government and non-government related to flood disaster assistance. Third, collecting funds and funding for flood management. Fourth, evaluate and monitor projects related to disaster management. The findings in the field show that the role is related to each other, and the most frequently performed role is to connect with the Government and non-government.