z-logo
open-access-imgOpen Access
Perseteruan Memori Kolektif: Kontestasi Islam dan Politik di Tasikmalaya Pasca-Orde Baru
Author(s) -
Amin Mudzakkir
Publication year - 2019
Publication title -
dinika
Language(s) - Uzbek
Resource type - Journals
eISSN - 2503-4219
pISSN - 2503-4227
DOI - 10.22515/dinika.v4i3.2063
Subject(s) - humanities , art
Tulisan ini bertujuan memahami Islam politik pasca-Orde Baru, dengan mengambil kasus di Tasikmalaya, dari perspektif sejarah dan reaktualisasinya. Maurice Halbwachs dan Pierre Nora menyebut hal terakhir itu sebagai memori, yang dianggap antitesis sejarah. Dalam praktiknya, batas antara sejarah dan memori memang kabur atau dikaburkan. Untuk analisis di tulisan ini, dua hal tersebut diposisikan berbeda. Fokus tulisan adalah memahami sejauh mana demokrasi bekerja dalam nilai-nilai kultural setempat yang mungkin bertentangan dengan pandangan HAM liberal. Kasus Tasikmalaya ini menarik untuk diletakkan dalam konteks “komunitarianisme demokratis” dan secara lebih luas dapat digunakan untuk melihat toleransi di Indonesia dengan kacamata kerjasama antara prinsip universal HAM dan interpretasi-interpretasi agama yang berpijak pada pengalaman komunal. Kata kunci: Tasikmalaya, Islam politik, Orde Baru, Memori Kolektif

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here