z-logo
open-access-imgOpen Access
Pelatihan Pemahaman Multikulturalisme pada Komunitas Nahdlatul Ulama di Desa Tamantirta, Kasihan, Bantul
Author(s) -
Li Wang
Publication year - 2021
Publication title -
bakti budaya/bakti budaya
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2655-9846
pISSN - 2620-2980
DOI - 10.22146/bakti.v4i1.1282
Subject(s) - multiculturalism , sociology , humanities , art , pedagogy
Multiculturalism is a new concept in social science that is used to be the main discussion in community service activities at Jam'iyyah and Jama'ah Nahdlatul Ulama (NU) in Tamantirto Village, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Through the concept of multiculturalism, Jama'ah and Jam'iyyah NU began to try to understand the teachings of NU which have the same principles as Tasawasuth, Tasamuh, Tawazun and I'tidal. With a mixture of online (Whatapps Group and WA Japri) and offline (direct FGD) methods, this service has provided the concept of multiculturalism as a training subject to Jama'ah and Jam'iyyah of NU. The results achieved in this service, opened an understanding of tolerance, the concept of Islamic brotherhood (Ukhuuwah Islamiyah) and a pluralistic social awareness. The emergence of this awareness of multiculturalism, although among NU circles, often referred to the concepts of Tawasuth, Tasamuh, Tawazun and I'tidal, Jama'ah began to expand the way of life in society amidst differences and complex social networks. Multikulturalisme sebagai konsep baru dalam ilmu sosial menjadi pembahasan pokok dalam kegiatan pengabdian pada Jam’iyyah maupun Jama’ah Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Melalui konsep multikulturalisme, Jama’ah maupun Jam’iyyah NU mulai mencoba memahami dan mengaitkan dengan ajaran NU yang memiliki kesamaan prinsip dengan Tasawasuth, Tasamuh, Tawazun dan I’tidal. Dengan metode campuran daring (Whatapps Group dan WA Japri) dan luring (FGD langsung), pengabdian ini telah memberikan pengenalan konsep multikulturalisme kepada Jama’ah dan Jam’iyyah NU sebagai praktik sosial-keagamaan. Hasil yang dicapai pada pengabdian ini, terbukanya pemahaman tentang toleransi, konsep persaudaraan Islamiyah (Ukhuuwah Islamiyah) dan kesadaran bermasyarakat yang majemuk. Munculnya kesadaran multikulturalisme ini, walaupun di kalangan NU, sering merujuk pada konsep Tawasuth, Tasamuh, Tawazun dan I’tidal, namun Jama’ah mulai semakin luas cara hidup bermasyarakat di tengah-tengah perbedaan dan jaringan sosial yang rumit.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here