
Memilah Fakta dan Fiksi dalam Kitab Suci : Sebuah Usaha Hermeneutis
Author(s) -
Ioanes Rakhmat
Publication year - 2012
Publication title -
kanz philosophia
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2442-5451
pISSN - 2407-1056
DOI - 10.20871/kpjipm.v2i2.31
Subject(s) - miracle , mythology , philosophy , decree , interpretation (philosophy) , theology , humanities , literature , art , law , political science , linguistics
: Man in ancient times, adheres the ancient cosmology, who hold no separation between supranatural and natural realm, beliefs that every occurrences in the world is ruled under the Divine free determination and decree. There is no natural law runs out of the order and will of God (as defended by Deism). Therefore, for them, miracle is always a real experience and unseparable part of daily life. Miracle is not something irrational. On the contrary, ancient reason provides justications for its occurency. Certainly, this conviction as a mythological interpretation that is being applied toward the facts which actually are ordinary and natural. Commonly, such mythological interpretations were generally proposed by the writers of holy books (scripture) long after the actual events, all of which, however was normal and natural. All miraculous stories in the holy books are entirely imaginary narratives which were codied post actum or post eventum, long after the unsensational actual events, and were built with religious apologetical or propagandistic purposes, rather than reporting the historical facts as they were. At their hand, the history is under religious-political apologies and propaganda. Keywords : Holy book, historiography, fact/history, ction, mitology, scientic subjectivism, objectivism, interactivism, sensus pleniorAbstrak : Bagi manusia di zaman kuno, yang menganut kosmologi kuno, tak mengenal pemisahan antara dunia adikodrati dan dunia kodrati. Bagi mereka alam berjalan karena semuanya diatur dan ditentukan dengan bebas oleh Allah. Tidak ada hukum alam yang berjalan mandiri terlepas dari pengaturan dan kehendak Allah (sebagaimana dipertahankan deisme di zaman modern). Karena itu, mukjizat senantiasa merupakan pengalaman nyata dan keadaan yang tak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Bagi mereka, mukjizat bukanlah hal yang tak masuk ke dalam nalar mereka. Namun sebaliknya, nalar manusia kuno membutuhkan dan memberi tempat bagi terjadinya mukjizat. Tentu saja, jika menurut mereka mukjizat telah terjadi, pendapat mereka ini adalah sebuah interpretasi mitologis atas fakta-fakta yang seluruhnya normal dan kodrati saja. Umumnya berbagai macam interpretasi mitologis ini diajukan para penulis kitab-kitab suci pada masa jauh sesudah kejadian-kejadian yang sebenarnya, yang normal dan kodrati semata. Semua kisah mukjizat dalam kitab-kitab suci adalah kisah-kisah imajiner yang disusun post actum atau post eventum, jauh sesudah kejadian sebenarnya yang tidak sensasional, dengan tujuan-tujuan apologetik atau demi propaganda keagamaan, bukannya melaporkan fakta-fakta sejarah apa adanya. Di tangan mereka, sejarah ditaklukkan seluruhnya pada apologetika dan propaganda religio-politik. Kata kunci : Kitab suci, historiografi, fakta/sejarah, fiksi, mitologi, subjektivisme ilmiah, objektivisme, interaktivisme, sensus plenior