
Sapa Bale Batu, Batu Bale Dia1: Politik Revivalisme Tradisi Siwa lima Orang “Ambon” Pasca Konflik
Author(s) -
Hatib Abdul Kadir
Publication year - 2016
Publication title -
lakon
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2527-4899
pISSN - 2252-8954
DOI - 10.20473/lakon.v1i1.1918
Subject(s) - humanities , art , theology , philosophy
Tulisan ini membahas tentang definisi siwa lima dan proses kemunculannya kembali karenadianggap mempunyai nilai pasifikasi serta rasa persatuan dalam menjaga perdamaian diAmbon pascakonflik. Redefinisi siwa lima sangatlah mendesak, mengingat pendukungkebudayaan di Pulau Ambon sangatlah beragam, terdiri beragam sub etnis dan penggunabahasa lokal yang diketahui masih aktif sebanyak 117 dari jumlah bahasa lokal yang pernahada kurang lebih 130-an. Disamping itu, munculnya modernitas semakin memperkuatmunculnya polarisasi antara agama Islam dan Kristen yang dipeluk oleh mayoritas masingmasingsub etnis. Menghidupkan kembali siwa lima adalah sebuah proses pencarianidentitas diri, mencari tahu siapa diri orang Ambon sesungguhnya, sehinggga dapatdijadikan sebagai modal sosial untuk menjali persatuan dan kebersamaan.