
Communicative Translation dalam Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan: Analisis Makna Iyyāka di Q 1: 5
Author(s) -
Ahmad Ramzy Amiruddin
Publication year - 2021
Publication title -
contemporary quran
Language(s) - Uncategorized
Resource type - Journals
eISSN - 2798-7248
pISSN - 2798-7108
DOI - 10.14421/cq.2021.0101-03
Subject(s) - humanities , theology , art , philosophy
Artikel ini membahas tentang penggunaan kata ikomi sebagai terjemah iyyāka pada Q1: 5 dalam Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan. Dalam masyarakat Bugis, penggunaan kata ikomi memiliki hirarkis kasar, sehingga penggunaannya tidak tepat jika ditujukan kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Sebagai gantinya, terdapat kata idi’mi yang lebih sopan dan sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara. Akan tetapi, kata ikomi yang dinilai kasar, justru digunakan sebagai terjemah iyyāka yang ditujukan kepada Tuhan (Allah), sehingga penggunaannya dinilai tidak sepadan. Untuk membuktikan hal tersebut, akan digunakan teori communicative translation milik Peter Newmark sebagai analisis ekuivalensinya. Adapun hasil yang ditemukan bahwasanya penggunaan kata ikomi sebagai terjemah iyyāka merupakan bentuk penegasan yang disesuaikan dengan konteks gramatikal yang dimaksudkan dalam Q1:5 dan konteks penafsirannya pada Tafsīr al-Mu’īn karya MUI Sulawesi Selatan. Dengan teori communicative translation yang berfokus pada kesepadanan efek yang diberikan oleh kedua bahasa, dapat dikatakan bahwa kedua kata tersebut menunjukkan adanya ekuivalen, karena keduanya memberikan efek atau kesan yang sama, yaitu penegasan.