
Peran Eritropoietin pada Anemia Akibat Keganasan pada Anak
Author(s) -
Reni Suryanty,
Nelly Rosdiana,
Bidasari Lubis
Publication year - 2016
Publication title -
aksi spenduyo : majalah smp negeri 2 mendoyo
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2338-5022
DOI - 10.14238/sp7.1.2005.34-8
Subject(s) - medicine , gynecology
Anemi relatif sering terjadi pada kasus keganasan hematologi atau tumor padat, namunpenyebab anemia belum jelas diketahui. Eritropoietin merupakan suatu glikoproteinhormon yang dapat merangsang proliferasi dan diferensiasi sel-sel progenitor darah merah.Salah satu penanganan anemia yaitu pemberian transfusi yang mempunyai banyak risikodiantaranya risiko transmisi infeksi, hemolitik, non- hemolitik, penumpukan besi danpenekanan produksi eritropoietin endogen. Dipertimbangkan pemberian eritropoietineksogen (human recombinan erythropoietin) yang identik dengan eritropoietin endogenpada keganasan terutama yang mendapat kemoterapi bila Hb £ 10 g/dL dengan dosis150 U/kg BB 3x seminggu selama 4 minggu dan dosis dapat ditingkatkan hingga 300U/kg BB dan diberikan selama 4 - 8 minggu. Diperlukan pemeriksaan secara periodikterhadap kadar besi, TIBC, (total iron binding capacity) saturasi transferin dan feritin.Rhu-EPO dipasaran yaitu epoetin alfa dan beta. Efek samping Rhu-EPO antara lainhipertensi, nyeri kepala, nyeri tulang, mual, edem, lemah dan diare. Dilaporkan padaepoetin beta relatif jarang terjadi hipertensi dan dilaporkan tentang terjadinya kasuspure red cell aplasia pada pemberian epoetin alfa (eprex).