z-logo
open-access-imgOpen Access
Penentuan Dosen Terbaik Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Technique For Order By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS): Studi Kasus Akademi Teknologi Bogor
Author(s) -
Arief Wibowo,
Istiqoomatun Nisaa
Publication year - 2020
Publication title -
explore it jurnal keilmuan dan aplikasi teknik informatika
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2549-354X
pISSN - 2086-3489
DOI - 10.35891/explorit.v12i2.2288
Subject(s) - humanities , mathematics , physics , philosophy
Keyword: Selection of the Best Lecturer Decision Support System Analytical Hierarchy Process Technique For Order By Similarity To Ideal Solution The Bogor Institute of Technology, which was founded in 1997, is located in the city of Bogor. Supported by 40 lecturers. Lecturers have a position as professional staff at the higher education level who are appointed in accordance with st(atutory regulations. Lecturers are educators who provide a number of knowledge to students in Higher Education. The system for determining the best lecturers is used to support teaching and learning activities at campus so that students who are qualified and competent in their fields are created. This is to meet the criteria for lecturers who decide which lecturer is considered the best. The process of determining the best lecturer in the current system still has shortcomings, namely it takes a long time to process the data from the questionnaire, so the decision is not valid. In this study, a Decision Support System (DSS) will be made where this system can help someone make accurate and right-on-target decisions. The method used is the Analytical Hierarchy Process (AHP) method to calculate the weight of each criterion and the Technique For Order By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS) to rank alternatives based on each criterion. The result of this research is a system capable of producing a ranking order in determining the best lecturers at the Bogor Institute of Technology. DOI Artikel: 10.35891/explorit.v12i2.2288 @2020 diterbitkan oleh Prodi Teknik Informatika Universitas Yudharta Pasuruan 1. Pendahuluan Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. (Undang-undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Pada pasal 51 Ayat (1) butir b, bahwa dosen berhak mendapatkan penghargaan sesuai dengan kinerja akademiknya. Pada setiap akhir semester Akademi Teknologi Bogor selalu memilih salah satu dosen terbaik, karena sudah selayaknya dosen diberikan penghargaan supaya lebih mendorong prestasi dosen secara efektif dan produktif, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan pengembangan sistem pendidikan perguruan tinggi, khususnya pembangunan nasional pada umumnya. Pada pengolahan data untuk kebutuhan penilaian kinerja dosen, Akademi Teknologi Bogor masih menggunakan program aplikasi Microsoft Excel. Kuesioner penilaian diberikan kepada mahasiswa untuk diisi dan dikembalikan ke bagian akademik. Dalam hal ini tentu saja tidak efisien, memakan waktu cukup lama dan memungkinkan terjadinya human error. Penilaian dosen diberikan kepada mahasiswa, tidak dinilai oleh pihak kampus. Hal ini memiliki kerawanan, dimana penilaian secara subjektif dari mahasiswa. Selain itu penilaian Kinerja Dosen hanya mengambil salah satu dari kriteria Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, sehingga pengajaran tidak menyeluruh dari seluruh aspek. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka diperlukan sebuah Sistem Pendukung Keputusan. SPK merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang tidak terstruktur sehingga dapat memberikan informasi yang bisa digunakan oleh para pengambil keputusan dalam membuat sebuah keputusan. 2. Kajian Teori 2.1 Sistem Pendukung Keputusan Sistem pengambilan keputusan (SPK) adalah sistem informasi berbasis komputer untuk mendukung pihak manajamen untuk mengambil keputusan berdasarkan kriteria yang disusun dalam pengolahan data pengambilan keputusan dilakukan komputer. Pengambilan keputusan dengan menggunakan Istiqomatun Nisaa, dkk./Explore IT 12 (2) 2020 Hal.62-74 Jurnal Explore IT|63 SPK maka keputusan yang diambil telah melalui proses pemilihan diantara beberapa alternatif yang tersedia sehingga keputusan yang diambil menjadi optimal. Sistem Pendukung Keputusan merupakan sebuah sistem yang dimaksudkan mendukung para pengambil keputusan manajerial dalam situasi keputusan semi-terstruktur. Sistem pendukung keputusan (SPK) merupakan sebuah sistem yang memiliki kriteria sebagai berikut, (Turban, 2015) : 1. Penggunaan model, komunikasi antara pengambil keputusan dan sistem terjalin melalui model-model matematis, jadi pengambil keputusan bertanggung jawab membangun model matematis berdasarkan permasalahan yang dihadapinya. 2. Berbasis komputer, sistem ini mempertemukan penilaian manusia (pengambil keputusan) dengan informasi komputer. Informasi komputer ini dapat berasal dari perangkat lunak komputer yang merupakan implementasi dari metode numeris untuk permasalahan matematis yang bersangkutan. 3. Fleksibel, sistem harus dapat beradaptasi terhadap timbulnya perubahan pada permasalahan yang ada. Jadi pengambil keputusan harus dibolehkan untuk melakukan perubahan pada model yang telah diberikannya kepada sistem, ataupun memberikan model yang baru. 4. Interaktif dan mudah digunakan, pengambil keputusan bertanggung Kemampuan sistem pendukung keputusan di antaranya sebagai berikut, (Turban, 2015): 1. Menunjang pembuatan keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur. 2. Manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat dan tidak terstruktur. 3. Membantu manajer pada berbagai tingkatan bawah 4. Menunjang pembuatan keputusan secara kelompok dan perorangan. 5. Menunjang pembuatan keputusan yang saling bergantungan dan berurutan. 6. Menunjang tahap-tahap pembuatan keputusan antara lain intelligence, design, choice dan implementasi. 7. Menunjang berbagai bentuk proses pembuatan keputusan dan jenis keputusan. 8. Kemampuan untuk melakukan adaptasi setiap saat dan bersifat fleksibel. 2.2 Analytical Hierarchy Process (AHP) Analitycal Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu metode dalam sistem pendukung keputusan yang menggunakan bobot kriteria dengan memilih alternatif terbaik dan digunakan untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki, menurut (Saaty, 2016). Untuk menentukan solusi, Metode AHP memerlukan point-point penilaian dari masing-masing kuesioner yang ditanyakan. Selain itu AHP dalam menentukan kriteria-kriteria yang bersifat multikriteria. Berikut Struktur Hierarki Metode AHP: 1. Dekomposisi Dekomposisi adalah proses menganalisa permasalahan rill dalam struktur hierarki atas unsur-unsur pendukungnya. Struktur hierarki secara umum dalam metode AHPdapat dilihat pada gambar 2.1 dengan tujuan adalah mencari Dosen dengan kompetensi terbaik. . Gambar 2.1 Sturktur Hierarki Metode AHP 2. Comperative Judgment (Perbandingan Penilaian) Perbandingan penilaian adalah membuat suatu penilaian tentang kepentingan relatif antara dua elemen pada suatu tingkat tertentu yang disajikan dalam bentuk matriks dengan menggunakan skala prioritas. Contoh perbandingan dapat dilihat dari Tabel 2.1 Matriks perbandingan berpasangan. Tabel 2.1 Matriks perbandingan berpasangan. K1 K2 K3 K1 1 K2 1 K3 1 Pertanyaan yang diajukan dalam penyusunan skala prioritas adalah: a. Elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/....)? b. Berapa kali lebih (penting/disukai/mungkin/....)? Penyusunan skala Perbandingan Saaty ditunjukkan pada Tabel 2.2. Tabel 2.2 Skala Perbandingan Saaty. Nilai Keterangan 1 A sama pentting (Equal) dengan B 3 A sedikit lebih penting (Moderate) dari B 5 A jelas penting (Strong) B 7 A sangat jelas Penting (Very Strong) dari B 9 A mutlak lebih penting (Extreme) dari B 2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara 2 nilai yang berdekatan 1/(1-9) Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1-9 3. Synthesis of Priority (Sintesa Prioritas) Dalam sintesa prioritas, dikenal konsep prioritas lokal dan global. Prioritas lokal (Local Priority) diperoleh dari perhitungan nilai eigen vektor pada setiap elemen matriks perbandingan berpasangan pada tingkatan yang sama. Prioritas global (Priority Global) diperoleh dari perkalian prioritas lokal untuk setiap perbandingan berpasangan dengan nilai eigen vektor tingkat diatasnya. 4. Logical Consitency (Konsistensi Logis) Konsistensi memiliki dua makna. Pertama, objek –objek yang serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Kedua, menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu. Istiqomatun Nisaa, dkk./Explore IT 12 (2) 2020 pp. 62-74 Jurnal Explore IT|64 Pada proses pengambilan keputusan, sangat penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada. Metode AHP mempertimbangkan suatu nilai konsistensi yang logis dalam penilaian yang digunakan untuk menentukan suatu prioritas. Nilai konsistensi dihitung berdasarkan persamaan dan tabel 2.3 berikut ini : CI = ג maks−n n−1 Ket : n = banyaknya kriteria CI = indek Konsistensi (Consistency Index) CR = CI IR Ket : CR = Rasio Konsistensi IR = Index Rasio (Nilai Indek Rasio Tergantung pada ukuran matriks) Jika nilai CR ≤ 0,1, maka hasil perhitungan data dapat diterima, sebaliknya jika nilai yang CR > 0,1 makahasil preferensi pembobotan tidak dapat diterima, sehingga perbandingan berpasangan harus diulang. Tabel 2.3 Nilai Indeks Random n 1 2 3 4 5 6 7 8 RI 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 N 9 10 11 12 13 14 15 RI 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56 1.57 1.59 2.3 Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) Metode Topsis merupakan sistem pengambilan keputusan yang didasarkan pada multikriteria dengan prinsip alternatif yang terpilih adalah alternatif terbaik dengan jarak terdekat dari solusi tidak hanya mempunyai jarak terdekat dari solusi ideal positif, namun juga memiliki jarak terjauh dari solusi ideal negatif dari sudut pandang geometris dengan menggunakan jarak Euclidean

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom