The Diversity Of Fish Species In Inland Water Of Kampung (Village) Nasem In Merauke District
Author(s) -
Norce Mote,
Rosa Delima Pengaribuan
Publication year - 2021
Publication title -
musamus fisheries and marine journal
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2656-7008
pISSN - 2654-9905
DOI - 10.35724/mfmj.v3i2.3471
Subject(s) - species richness , biology , ecology , species evenness , diversity index , species diversity , fishery , population , swamp , demography , sociology
Wetland or stagnant swamp refers to an ecosystem of inland water that is vulnerable to population decline. Kampung Nasem in Merauke has quite promising fish resources. This research aimed to determine the diversity of fish species found in Kampung Nasem of Merauke. The fish sampling was performed for three months, from September to November 2017 at three research stations by functioning digital camera, ruler and manual as tools for documentation, while tool for fishing used gill net in the size of 1, 1.5, 2, 2.5, 3 and 4 inches; casting nets and scoop net. Fish found in the field were preserved with 10% formalin for identification purpose in the laboratory. The observed biological parameters were species richness, diversity index (H’), evenness index (E) and dominance index (C). The research finding obtained 15 fish species richness coprising 11 native fish species and 5 introduced fish species. The value of H’ was classified into moderate while the uniformity value was high, hence the fish were spread evenly in each research site and no species was found with domination. In addition, the Tilapia (Oreochromis niloticus) and Glass (Agrammus ambassadors) were species to have sufficient widespread distribution and numerous presence of presentation within the three research stations. Mote & Pangaribuan, Keanekaragaman Jenis Ikan 168 PENDAHULUAN Ekosistem perairan umum daratan umumnya memiliki nilai keendemisan sumberdaya ikan yang tinggi, namun rentan terhadap penurunan populasi sumberdaya tersebut (Effendie, 2002). Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan populasi ikan di perairan umum daratan misalnya rusaknya ekosistem akibat erosi, masuknya spesies asing yang di introduksi, terjadinya persaingan dan pemangsaan (Rahardjo, 2011). Ekosistem lahan basah atau rawarawa menggenang adalah salah satu contoh ekosistem perairan umum daratan yang terdapat di Kabupaten Merauke. Luas areal rawa di Kabupaten Merauke adalah 1.425.000 ha (DKP, 2011). Tahun 2013 sektor perikanan Kabupaten Merauke menghasilkan angka cukup baik di Provinsi Papua. Produksi ikan laut untuk konsumsi lokal mencapai 6.912.824 kg, sedangkan produksi ikan perairan umum daratan mencapai 3.457.369 kg (setengah lebih dari produksi ikan laut). Fakta ini menerangkan bahwa produksi perikanan darat pun memberikan nilai tambah bagi masyarakat di Kabupaten Merauke (BPS, 2014). Kampung Nasem Distrik Merauke merupakan kampung yang memiliki potensi perikanan umum daratan yang cukup menjanjikan. Wilayah lahan basah yang terkenal ialah Rawa Dogamit, Rawa Bulat dan Rawa Buaya serta beberapa rawarawa kecil lainnya. Wilayah ini merupakan salah satu tempat persinggahan bagi burung migran. Indikasinya adalah tempat ini kaya akan sumberdaya ikan, gastropoda, krustasea dan berbagai insekta sebagai makanan dari burung-burung tersebut. Inventarisasi sumberdaya ikan penting dikaji karena ikan berperan penting dalam suatu sistem ekologis selain organisme lain. Disatu sisi ikan turut menyumbang protein hewani bagi manusia, terutama masyarakat Merauke. Secara kasat mata Kampung Nasem menghasilkan sumberdaya ikan yang cukup melimpah dan perlu ada dokumentasi tentang ini, sehingga dapat muncul ide-ide tentang pengembangan dan keberlanjutan sumberdaya ikan di wilayah ini. Pengkajian stok merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dan diharapka hasil tangkapan ikan tersebut harus tetap ada kebererlanjut/lestari (Sustainable yield) (Syandri, 2004). Informasi tentang sumberdaya ikan di perairan umum daratan Kabupaten Merauke belum banyak dikaji dan terutama di Kampung Nasem. Hingga saat ini baru dilaporkan oleh Bunur (2011) bahwa terdapat delapan jenis ikan yang ditemukan di lahan basah Kampung Kaliki; Sentosa dan Satria (2015) melaporkan bahwa terdapat 12 jenis ikan yang ditemukan di Rawa Kaiza Hulu Sungai Kumbe; selanjutnya Wibowo et al., (2015) menginformasikan bahwa terdapat 16 jenis ikan yang ditemukan di Rawa Biru Kampung Rawa Biru Merauke. Oleh sebab itu penting dilakukan kajian terkait status terkini sumberdaya ikan di Kampung Nasem Distrik Merauke. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman jenis ikan yang ditemukan di perairan umum daratan kampung Nasem Distrik Merauke Kabupaten Merauke, dengan melihat: status kekayaan jenis; keanekaragaman jenis; nilai kemerataan dan nilai dominansi. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu September-November 2017 di Perairan rawa kampung Nasem (Gambar 1), dengan lokasi penelitian sebagai berikut: Stasiun I Rawa Dogamit (8038’32,66’’LS dan 141031’55,96’’BT); Stasiun II Rawa Bulat (8038’2,76’’LS dan 140032’43,40’’BT) dan Stasiun III Rawa Buaya (8037’43.61’’LS dan 140033’10,66’’BT). Metode yang digunakan adalah survey. Sampel ikan yang diperoleh dianalisis di Laboratorium Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan UNMUS. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jaring insang ukuran 1, 1,5, 2, 2,5, 3 dan 4 inchi; jala lempar dan seser (alat menangkap ikan). Dokumentasi menggunakan kamera digital, mistar besi 40 Mote & Pangaribuan, Keanekaragaman Jenis Ikan 169 cm, akuarium sedang, kertas millimeter blok yang telah dilaminating dan buku panduan identifikasi diantaranya: Field guide to the freshwater fishes of New Guinea (Allen, 1991); Freshwater fishes of the Timika Region New Guinea (Allen et al., 2000); dan Biota akuatik di Perairan Mimika, Papua (Setyadi et al., 2002). Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% dan formalin 10%. Gambar 1. Lokasi Penelitian Analisis data meliputi kekayaan jenis, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Kekayaan jenis ditentukan ketika semua ikan yang tertangkap dikelompokan berdasarkan jenis, selanjutnya dihitung setiap jenisnya dan disajikan dalam bentuk histogram. Untuk indeks keanekaragaman dihitung dengan persamaan indeks Shanon-Wiener (Begon et al., 1990) yaitu H’ = ∑ , dimana H’(Indeks diversitas), pi (ni/N), ni (Jumlah spesies ke-i), N (Jumlah total seluruh spesies). Indeks keseragaman dihitung dengan persamaan E = , dimana H’ (Indeks diversitas), H’maks (ln S), S (jumlah spesies). Jika nilai indeks keseragaman mendekati 0 dapat diartikan dalam ekosistem/komunitas tersebut terjadi kecendrungan dominansi spesies tertentu, dan jika nilai mendekati 1 maka ekosistem/komunitas berada dalam kondisi relatif stabil dan penyebaran spesies merata (Krebs, 1972). Indeks Dominansi dihitung dengan persamaan Simson (Odum, 1971) yaitu Di = , Di (Indeks dominansi), ni (Jumlah individu setiap spesies), N (Total individu semua spesies). Kriteria dominansi ditentukan sebagai berikut: Dominan jika Di > 50%, Sum dominan (umum) jika Di 10-50%, tidak dominan (jarang) jika Di < 10%. HASIL DAN PEMBAHASAN Kekayaan Jenis Jumlah keseluruhan ikan yang diperoleh selama penelitian adalah 2.215 individu dan tergolong dalam 6 ordo, 14 famili dan 15 spesies. 11 spesies merupakan ikan asli (Lates calcaliver, Megalops cyprinoides, Glossamia spp., Melanotaenia splendida rubrostriata, Neoarius uterus, Selenotoca papuensis, Scatophagus argus, Bostrychus zonatus, Stringylura kreffti), dan 4 spesies ikan Mote & Pangaribuan, Keanekaragaman Jenis Ikan 170 asing (Channa striata, Anabas testudineus, Clarias batracus dan Oreochromis niloticus). Dari ke 15 spesies ikan yang ditemukan terbanyak di Stasiun II dan III (13 spesies) sedangkan stasiun I ditemukan 12 spesies (Tabel 1 ). Tabel 1. Kekayaan spesies ikan pada setiap stasiun penelitian Ordo Famili Spesies Nama Indonesia Stasiun Total I II III Perciformes Latidae Lates calcalrifer Kakap 78 73 60 211 Apogonidae Glossamia spp. Kakap kembang 1 4 6 11 Ambassidae Ambassis agrammus Kaca 130 86 65 281 Scatophagidae Selenotoca papuensis Bambit putih 87 0 0 87 Scatophagidae Scatophagus argus Bambit warna 35 0 0 35 Channidae Channa striata Gastor 62 54 51 167 Anabantidae Anabas testudineus Betik 80 83 76 239 Cichlidae Oreochromis niloticus Nila 187 171 154 512 Clupeiformes Belonidae Bostrychus zonatus Olip 2 5 3 10 Eleotridae Stringylura kreffti Julung 0 12 14 26 Siluriformes Arridae Neoarius uterus Mayung 43 24 36 103 Clariidae Clarias batrachus Lele 60 46 38 144 Elopiformes Megalopidae Megalops cyprinoides Mata bulan 35 30 24 89 Mugiliformes Mugilidae Mugil spp. Belanak 65 45 57 167 Antheriniformes Melanotaeniidae Melanotaenia splendida rubrostriata Pelangi 69 43 32 144 Jumlah 934 676 616 2226 Tingginya jumlah kekayaan jenis disuatu komunitas berhubungan erat dengan habitat dan lingkungan hidup dari ikan. Jika dibandingkan dengan penelitian serupa yang dilakukan di Rawa Biru (daerah hulu lokasi riset ini) sebagaimana dilaporkan oleh Wibowo et al. (2015) yakni terdapat 16 jenis ikan penghuni Rawa Biru. Penyebarannya merata di delapan (8) titik penelitian. Demikian juga yang di laporkan Laratmase (2017) bahwa ditemukan 27 jenis ikan di Kali Wanggo yang tersebar di tiga titik lokasi. Beberapa tahun sebelumnya yaitu Binur (2011) melaporkan jumlah jenis yang ditemukan di lahan basah Kaliki Merauke adalah 8 jenis pada tipe lokasi riset yang berbeda. Dari beberapa penelitian ini menerangkan bahwa jumlah jenis sangat berhubungan erat dengan habitat (faktor lingkungan), jenis alat tangkap, dan waktu penelitian. Indeks Keanekaragaman Indeks keanekaragaman yang ditemukan tergolong sedang. Stasiun I adalah 2,38, Stasiun II adalah 2,24 dan Stasiun III 2,27 (Gambar 2). Keanekaragaman berhubungan erat dengan jumlah jenis dan kehadiran individu tiap jenis dan dominansi. Dari hasil penelitian yang diperoleh adalah ke tiga stasiun memiliki nilai keanekaragaman yang sedang. Hal ini diduga karena jumlah jenis yang ditemukan di ketiga stasiun sama (12; 13;13 jenis) dan jumlah kehadiran individu tidak ada yang mendominasi. Mote & Pangaribuan, Keanekaragaman Jenis Ikan 171 Gambar 2. Indeks keankaragaman Beberapa penelitian yang melaporka hasil serupa misalnya NCDENR (2006), Sungai yang dihuni oleh ≤ 16 jenis ikan membuktikan bahwa sungai tersebut memiliki
Accelerating Research
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom
Address
John Eccles HouseRobert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom