z-logo
open-access-imgOpen Access
CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI ABDUL SALAM HS “MALAIKAT WARINGIN”
Author(s) -
Adek Dwi Oktaviantina
Publication year - 2020
Publication title -
bebasan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2721-4362
pISSN - 2406-7466
DOI - 10.26499/bebasan.v6i2.118
Subject(s) - poetry , meaning (existential) , image (mathematics) , computer science , linguistics , art , literature , artificial intelligence , philosophy , epistemology
Poetry is arranged beautiful words and understood by the readers. Therefore, poetry is inseparable from the accuracy of the language which is arranged aesthetically and creatively so that the meaning of poetry can be conveyed properly. Interpretive descriptive of images is used as the technique of this research. Image, as a way of looking at the meaning, is identified through the human senses. The method used is interpretative qualitative research method. The formulation of the problem is how the image in the poetru collection of Abdul Salam HS entitled "Malaikat Waringin". The purpose of this research is to describe the image in Abdul Salam HS‟ Poetry Collection. The results from analyzing fifty poems contained in the poetry collection entitled "Malaikat Waringin", it showed that there are 17 visual image data, 9 auditory image data, 4 smell and taste image images, and 6 visualization image data. Kata kunci: Imagery, Poetry Collection, Senses . Citraan dalam Kumpulan... (Adek Dwi O.) 138 Latar Belakang Masalah Kata-kata indah yang tersusun dengan berpola rima dan dibacakan dengan irama dan intonasi merupakan definisi puisi. Puisi bukan hanya deret kata yang tak berarti dan tidak bermakna. Puisi memiliki ruh yang di dalamnya terdapat interpretasi penyair terhadap lingkungan sosial atau permasalahan yang dihadapi dengan sebuah kritik kehidupan melalui metafora katakata. Puisi adalah bentuk karya sastra yang dengan diksi yang memiliki nilai estetis dan makna tersirat di dalamnya. Pada penyampaian puisi tersebut, penyair membutuhkan diksi sebagai kekuatannya dalam penyampaian makna kepada pembaca. Puisi adalah karya estetis yang memanfaatkan bahasa secara khas (Sayuti, 2010: 24). Dalam hal itu, puisi merupakan media untuk menyampaikan ekspresi penyair dalam bentuk kata-kata yang memiliki kekhasan pada lapis makna puisi. Pengalaman intens sebagai individu meskipun dianggap hal remeh namun dapat menimbulkan kiasan yang tepat pada kondisi tertentu. Menurut Ayu Utami, penulis membuat sebuah tulisan berarti menyusun kerangka berpikir, dengan membangun pengalaman dan argumen serta dibalut dalam bahasa yang pas. Bukan hanya bahasa yang indah namun membutuhkan ketepatan pula dalam penyampaiannya (2017: 131). Ketepatan inilah yang membutuhkan proses kreatif. Seniman adalah subjek terpenting yang meresepsi kebesaran Tuhan dalam bentuk keindahan. Bagi seorang seniman, segala hasil ciptaan tuhan dapat ditampilkan ciri keindahannya dan disajikan untuk masyarakat (Ratna, 2015: 9). Puisi merupakan salah satu karya seniman berjenis pengukir diksi yang di dalam bait terdapat penciptaan ulang keindahan hasil karya tuhan. Hal itu tidak lepas dari keindahan bentuk penciptaan Tuhan yang lain yaitu indera manusia. Indera manusia dalam hal ini indera perasa, indera penglihatan, indera pengecapan dan penciuman, serta indera pendengaran sebagai perwujudan nikmat manusia dalam tubuh. Penerjemahan nilai rasa dalam kata-kata yang ditulis dan disuarakan oleh penyair dalam bentuk diksi yang terasa tepat dan sesuai dengan indera yang kita imajikan. Rasa lapar terasa semakin menekan perut saat kita membaca citraan mengenai bau masakan enak yang seakan benar-benar bisa kita nikmati. Demikian pula dengan penggambaran rasa sakit yang digambarkan dengan terlukanya tubuh hingga gambaran indera tersebut bisa dirasakan oleh pembaca. Buku kumpulan puisi Abdul Salam HS berjudul Malaikat Waringin (puisi pilihan 2010—2015) diterbitkan tahun 2015 oleh Lumbung Banten. Kumpulan puisi berisi lima puluh puisi karya Abdul Salam HS. Puisi – puisi Abdul Salam yang aktif di Rumah Dunia sangat menarik dari segi tema dan pilihan kata. Abdul Salam HS adalah sastrawan lokal Banten dan binaan Rumah Dunia. Beliau sempat menjabat sebagai presiden Rumah Dunia. Karya beliau pernah terpilih sebagai pemenang keempat taruna sastra di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2016. Beliau tergabung dalam komunitas puisi Rumah Dunia asuhan Toto ST Radik. Karya-karyanya yang berupa puisi, cerpen, dan esai terbit di koran lokal seperti Radar Banten, Kabar Banten, Tribun, Satelit News, Pikiran Rakyat. Buku Abdul Salam HS yang sudah terbit berjudul Ode buat Orang-Orang Bojong (2010), Catatan dari Simpang Matamu (2011), Munajat Sesayat Do‟a (2011), Akulah Musi (2011), Tuah Tara No Ate (2011), Sajak Pohon Bakau (2012), Suara Lima Negara (2012), Negeri Poci ke-4 (2013), Kota yang Ditinggalkan (2013), dan Mubeng (2013) (Salam, 2015: 54). Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimanakah citraan dan majas dalam kumpulan puisi Abdul Salam HS berjudul ―Malaikat Waringin‖. Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan citraan dan majas dalam kumpulan puisi Abdussalam HS berjudul ―Malaikat Waringin‖. Penelitian mengenai citraan pada puisi pernah dilakukan oleh Yeni Maulina dari Balai Bahasa Provinsi Riau dengan judul Citraan dalam Kumpulan Sajak Orgasmaya karya BÉBASAN, Vol. 6, No. 2, edisi Desember 2019: 137—150 139 Hasan Aspahani yang diterbitkan pada Jurnal Madah, Volume 7, Nomor 2, Edisi Oktober 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis citraan yang ada di kumpulan sajak Orgasmaya karya Hasan Aspahani. Hasil penelitian menunjukkan dari 74 sajak yang dianalisis terdapat 74 data sajak yang mengandung citraan. Sebelas di antaranya mengandung citraan penglihatan, 22 sajak yang mengandung citraan pendengaran, empat sajak yang mengandung citraan penciuman, lima sajak yang mengandung citra rasaan, dan 25 sajak yang mengandung citraan gerak. Hal itu karena penyair memanfaatkan pembaca agar dapat membayangkan gerakan yang diwujudkan penyair melalui diksi yang tepat (Maulina, 2016: 177). Penelitian lainnya mengenai citraan. Citraan pada puisi adalah penelitian yang dilakukan oleh Agus Yulianto dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan. Penelitiannya berjudul Citraan dalam Puisi-Puisi Karya Ratna Rosana, Seorang Penyair Wanita Kalimantan Selatan yang diterbitkan oleh Mabasan, Volume 12, Nomor 2, Juli—Desember 2018. Manfaat penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pencitraan yang terdapat dalam puisi karya Ratna Rosana yang terdapat dalam buku berjudul Kabut Semu dalam Hadirmu serta makna yang terdapat di dalamnya. Dari hasil analisis diketahui bahwa Ratna Rosana banyak menggunakan citra untuk mempertegas makna imaji (Yulianto, 2018: 151). Unsur utama karya sastra adalah bahasa. Pertama yaitu bahasa baik lisan maupun tulisan adalah alat untuk memisahkan sekaligus menunjukkan keumuman lepas dari unsurunsur yang membangunnya. Kedua yaitu keseluruhan kehidupan ini adalah bahasa yaitu dapat diwujudkan dan dipahami oleh bahasa (Ratna, 2016: 65). Bahasa merupakan elemen penting dalam mengenali karya sastra yaitu stilistika. Pemahaman terhadap kehidupan dapat dipahami dengan pemahaman bahasa dan unsur-unsur yang membangun dalam penyusunan bahasa yang menarik dalam sastra termasuk puisi. Salah satu gaya bahasa yang menarik dan perlu dipahami yaitu citraan karena citraan merupakan pengidentifikasian indera untuk memahami sastra melalui gaya bahasa. Citraan dalam puisi berfungsi untuk menggugah perasaan, merangsang imajinasi, dan menggugah pikiran di balik sentuhan indera. Oleh karena itu, citraan berfungsi sebagai penafsiran dan mempengaruhi pemaknaan. (Sayuti, 2016: 129). Menurut Pratiwi (2016: 91) citraan (imagery) adalah gambaran pikiran, khayalan, dan perasaan yang diungkapkan penyair melalui alat-alat indera sebagai media imajinasi. Istilah citraan dalam puisi dapat dipahami dengan dua cara yaitu secara reseptif. Pembaca melalui puisi menemukan sesuatu yang tampak konkret dan dapat membantu proses penafsiran puisi secara menyeluruh dan tuntas. Dalam kaitannya dengan proses kreatif, puisi dipahami secara ekspresif. Citraan berfungsi membangun keutuhan puisi karena penyair mengalami pengalaman keinderaan yang disampaikan kepada pembaca (Sayuti, 2010: 170). Citraan merupakan sebuah usaha untuk mengkonkretkan sesuatu yang abstrak menjadi seolah-olah konkret melalui bentuk-bentuk citraan sehingga bentuk tersebut mudah diimajinasikan, mudah digambarkan, dan mudah ditangkap oleh pembaca (Nurgiyantoro, 2014: 276). Sebuah benda abstrak mampu didefinisikan menjadi sesuatu yang mampu ditamgkap oleh indera manusia. Jenis-jenis citraan ada beberapa macam yaitu citraan penglihatan, citraan penciuman dan pengecapan, citraan peraba, dan citraan pendengaran. Citraan juga bisa bersifat sinestesia yaitu mempertukarkan indera untuk mempertegas makna dan memberikan makna tersirat pada sebuah konteks. Contohnya, kusentuh harum wangi tubuhmu, kulihat bau anyir di pelabuhan itu, dan kucium manis parfum wanita. Citraan penglihatan adalah citraan yang dimunculkan melalui tanggapan indera penglihatan (mata). Citraan ini memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang sebenarnya tidak terlihat menjadi terlihat. Citraan membuat pendengar seakanakan melihat sebuah objek secara langsung (Pratiwi, 2016: 93). Contoh citraan penglihatan Citraan dalam Kumpulan... (Adek Dwi O.) 140 yaitu Asep menatap rumah kumuh yang beratapkan asbes dan beralaskan tanah becek. Pembaca seakan-akan melihat gambaran yang divisualisasikan melalui diksi yang mengimajikan situasi visual. Citraan penciuman dan pengecapan. Citraan penciuman berhubungan dengan indera hidung. Pembaca seakan-akan mencium bau objek yang dikiaskan oleh penyair. Citraan pengecapan berhubungan dengan alat kecap manusia yang merasakan aneka rasa manis, pahit, asin, dan asam. Kadang kala, citra pengecapan dikombinasikan dengan indera lainnya menjadi sinestesia (Pratiwi, 2016: 97). Contoh citraan penciuman dan pengecapan yaitu bau ban yang terbakar dan bensin yang menguar di udara mengunci hidung. Pembaca seakan-akan diajak untuk mencium bau yang dicium oleh penyair untuk merasakan situasi yang ada dalam puisi. Citraan pendengaran adalah citraan yang timbul dari indera pendengaran. Indera pendengaran telinga seakan-akan mendengar yang diucapkan oleh citraan tersebut. (Pratiwi, 2016: 96). Contoh citraan pendengaran yaitu kudengar bisikan suara angin

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom