z-logo
open-access-imgOpen Access
Transformasi Makna Religi Borotan Dalam Upacara Kurban Bius Pada Masyarakat Batak
Author(s) -
Defri Elias Simatupang
Publication year - 2018
Publication title -
berkala arkeologi sangkhakala
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2580-8907
pISSN - 1410-3974
DOI - 10.24832/bas.v15i2.124
Subject(s) - ceremony , humanities , meaning (existential) , interpretation (philosophy) , sociology , art , philosophy , epistemology , linguistics , theology
‘Borotan’ is a Batak Tobanese vocabulary meaning “stake”, to which an animal is tied before being sacrificed in a traditional Bataknese ceremony. ‘Borotan’ physically looks like a simple piece of wood but it bears a profound interpretation and has become an important part of reconstructing the religious aspects of the ancient Bataknese. Thus, this writing aims at explaining the religious importance of ‘Borotan’. The religiousness being discussed here is its interpretation of form and function in the religious activity in the past and present. Inductive reasoning is expected to produce an answer to the problem question through the analysis of the observed variables. The observation results show that the Bataknese try to communicate with the divine power in the ceremony to create two-way communication, vertically and horizontally.AbstrakBorotan merupakan istilah kosa kata Batak Toba yang berarti kayu pancang, tempat hewan diikat sebelum dikurbankan dalam sebuah tradisi upacara adat Batak Toba. Secara fisik borotan terlihat sebagai kayu biasa saja, namun secara pemaknaan sangat dalam dan menjadi bagian penting dalam usaha merekonstruksi aspek religi masyarakat Batak masa lampau. Maka tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana borotan dilihat dari aspek religiusitasnya. Religiusitas dalam hal ini adalah pemaknaan borotan terkait bentuk dan fungsinya dalam aktivitas religi masyarakat Batak masa lampau dan hingga terkini. Melalui kerangka pikir induktif diungkapkan jawaban atas permasalahan tersebut dengan menganalisisnya berdasarkan variabel pengamatan yang dibuat. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa masyarakat Batak berusaha mengadakan komunikasi dengan kekuatan adi kodrati sehingga dalam kegiatan upacara terjadi hubungan dua arah yaitu secara vertikal dan horizontal.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom