z-logo
open-access-imgOpen Access
Studi Bio-epidemiologi dan Analisis Spasial Kasus Malaria Daerah Lintas Batas Indonesia Malaysia (Pulau Sebatik) Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur
Author(s) -
Damar Tri Boewono,
Widiarti Widiarti,
Ristiyanto Ristiyanto,
Umi Widyastuti
Publication year - 2012
Language(s) - English
DOI - 10.22435/bpk.v40i4
. Malaria remains to be a public health problem in Nunukan District (especially Sebatik island), East Kalimantan Province. Vector control programs using  long lasting insecticide nets (LLINs), have been conducted by the Health Office. Yet malaria cases were still occurred on the previous years. Comprehensive research was conducted to determine the specific vector control strategies based on the vectors bionomic, spatial distributions of malaria cases and breeding habitats (GIS mapping and distance index analyses) and susceptible status of malaria  vectors against insecticides. The study revealed that three mosquito species were remain as potential malaria vectors such as: An. balabacensis and An. maculatus , the breeding habitats were fresh water wells/ponds and streams. In the coastal areas brackish water ponds and  lagoon were found as the breeding habitats of An. sundaicus  was recognized a s malaria vector. Both mal aria vectors (An. balabacensis and An. maculatus), were found resistant to insecticides Permethrin and  Lambdacyhalothrin and tolerance against Malathion. Alternative insecticide should be considered as a replacement. Spatial analysis found that malaria cases were distributed on clumped/cluster, buffer zones against breeding habitat (<400 meters), indicate local transmission (indigenous) due to vector behaviour. Integrated vector management by using  indoors treatment and breeding habitats application by using bio-larvicides such as bacillus or insect growth regulator/IGR, is recommended. In an effort to maintain sustainability of the malaria programs, community participation should be developed. Key Words:  Malaria, Spatial distribition, Cases Distance Index, Sebatik Island Abstrak. Malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di kabupaten Nunukan (khususnya Pulau sebatik), provinsi Kalimantan Timur.  Program pengendalian vektor menggunakan kelabu berinsektisida /Long Lasting Insecticide Net (LLIN), telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Walaupun demikian, kasus malaria masih banyak ditemukan beberapa tahun lalu. Penelitian komprehensif telah dilakukan untuk mengetahui distribusi spasial kasus malaria dengan pemetaan menggunakaan geographical information system (GIS) sehubungan dengan distribusi breeding habitat positip jentik nyamuk vektor. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan strategi pengendalian vektor malaria spesifik, berdasarkan beberapa faktor bionomik, distribusi spasial kasus malaria dan breeding habitat positip jentik nyamuk vektor  dengan pemetaan GIS dan analisis indek jarak ( distance index analyses ) dan status kerentanan vektor malaria terhadap insektisida.  Hasil penelitian ditemukan bahwa tiga spesies nyamuk dicurigai sebagai vektor malaria seperti: An opheles balabacensis dan A nopheles maculatus ( daerah pegunungan di pedalaman, seperti Desa Sungai Limau and Lapio, sebagai breeding habitat adalah air sumur/perigi, kolam dan parit) . Daerah pantai, Desa Sungai Nyamuk dan Liang Bunyu, kolam dan lagoon/goba air payau ditemukan sebagai breeding habitat nyamuk A nopheles sundaicus (dicurigai sebagai vektor malaria). Vektor malaria (An. balabacensis and An. maculatus), ditemukan sudah resisten terhadap insektisida Permetrin dan Lambdacyhalotrin tetapi masih toleran terhadap Malation. Insektisida alternatif perlu dipertimbangkan dalam pengendalian vektor malaria.  Analisis spasial diketahui bahwa kasus malaria tersebar mengelompok clumped/cluster , buffer zones terhadap breeding habitat (< 400 meter) sebagai indikasi penularan lokal/setempat (indigenous) sehubungan dengan perilaku vektor  dan kurang disebabkan  mobititas manusia.  Pengendalian vektor malaria di Desa Sungai Limau (daerah endemis) perlu diperhatikan secara khusus,  Manajemen vektor secara terpadu baik aplikasi dalam rumah  ( indoors treatment ) seperti indoor residual spraying/IRS (penyemprotan insektisida pada dinding rumah), atau distribusi kelambu berinsektisida ( LLIN ) dan aplikasi breeding habitat jentik nyamuk vektor digunakan bio-larvasida seperti bacillus atau insect growth regulator/IG R. Sebagai usaha pemeliharaan dan pelestarian program pengendalian vektor malaria, perlu dikembangkan dan dibangun partisipasi masyarakat. Kata Kunci:  Malaria, Distribusi spasial,  Indek jarak kasus, Pulau Sebatik.

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom