z-logo
open-access-imgOpen Access
ANALISIS PERILAKU INSTABILITAS, PERGERAKAN HARGA, EMPLOYMENT DAN INVESTASI DI DALAM SEKTOR PERTANIAN INDONESIA: Aplikasi Vector Error Correction Model
Author(s) -
Andi Irawan
Publication year - 2007
Publication title -
deleted journal
Language(s) - English
Resource type - Journals
SCImago Journal Rank - 0.505
H-Index - 4
ISSN - 2460-9196
DOI - 10.21098/bemp.v8i1.129
Subject(s) - economics , cointegration , error correction model , granger causality , inflation (cosmology) , investment (military) , short run , shock (circulatory) , johansen test , econometrics , unemployment , vector autoregression , macroeconomics , monetary economics , medicine , physics , politics , theoretical physics , political science , law
In a long run perspective, the aim of this research is to analyze the impact of the inflatingpolicy on the employment growth, and the agriculture investment. From a short run perspective, the aim covers (1) the identification of agriculture price instability on certain economic blocks, (2) the analysis of inflation behavior in the agriculture sector and its causality both to output price and input prices and the causality within the input prices. We apply the Vector Error Correction Model, Johansen Cointegration Test, and Granger Causality Test on a monthly series data from 1993:01 to 2002:12. The result shows the production and capital in agriculture sector are responsive to the output price change. This mean inflating the output price will effectively help to generate the output and a new investment in this sector. However, as the price shock can be a source of instability, the government should be careful to apply this price inflating policy. In addition, to solve the unemployment problem in agriculture sector, the government should apply the cost strategy, such as input price subsidy policy. 1 Tulisan ini merupakan bagian dari disertasi doktor (S3) penulis pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian IPB yang berjudul Analisis Keterkaitan Ekonomi Makro, Perdagangan Internasional dan Sektor Pertanian di Indonesia: Aplikasi Vector Error Correction Model. 2 Penulis adalah Staf Pengajar pada Universitas Bengkulu. JEL: C32, C52, O13, Q11, Q18 Keyword: Employment, Investasi, Agriculture,Johansen, Cointegration Vector Error Correction Model, Causality Test 80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juni 2005 I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Peran sektor pertanian tetap penting dalam dalam persepektif ekonomi makro. Pertama, sektor pertanian merupakan sumber pertumbuhan output nasional yang penting, studi Herliana (2004) menunjukkan sektor ini memberikan kontribusi 19.1 % terhadap PDB dari keseluruhan sektor perekonomian Indonesia. Walaupun secara absolut lebih kecil jika dibanding dengan kontribusi sektor jasa (43.5 persen) dan manufaktur (23.9 persen) namun sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar yakni 47.1 persen. Tidak mengherankan kalau sejumlah kajian masih merekomendasikan agar investasi pemerintah tetap diprioritaskan ditanam dalam sektor ini (lihat antara lain Syafa»at dan Mardianto (2002) dan Hutabarat (2001). Kedua, sektor pertanian memiliki karakteristik yang spesifik khususnya dalam hal ketahanan sektor ini terhadap guncangan struktural dari perekonomian makro (Simatupang dan Dermoredjo, 2003). Hal ini ditunjukkan oleh fenomena dimana sektor ini tetap mampu tumbuh positif pada saat puncak krisis ekonomi sementara sektor ekonomi lainnya mengalami kontraksi. Saat krisis pada kondisi parah yang ditunjukkan dengan pertumbuhan PDB negatif yakni sepanjang triwulan pertama 1998 sampai triwulan pertama 1999, tampak bahwa sektor pertanian tetap bisa tumbuh dimana pada triwulan 1 dan triwulan 3 tahun 1998 pertumbuhan sektor pertanian masing-masing adalah 11. 2 persen, sedangkan pada triwulan 1 tahun 1999 tumbuh 17.5 persen. Adapun umumnya sektor non pertanian pada periode krisis ekonomi yang parah tersebut pertumbuhannya adalah negatif (Irawan, 2004). Melihat arti penting sektor pertanian tersebut diharapkan kebijakan-kebijakan ekonomi negara berupa kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan kebijakan perdagangan, tidak mengabaikan sektor pertanian dalam arti kebijakan-kebijakan tersebut tidak bias kota yakni memperioritaskan aktivitas ekonomi kota yang biasanya digeluti para pelaku ekonomi skala besar, dan juga tidak bias modal dalam arti kebijakan yang berorientasi mendukung para pemiliki modal besar padahal sektor pertanian umumnya digeluti oleh mereka yang dikategorikan sebagai pemodal kecil dan sedang. Untuk itu sangat penting untuk diketahui bagaimana dampak berbagai guncangan eksternal dari luar sektor pertanian terhadap perilaku variabel-variabel ekonomi penting dari sektor pertanian (output atau PDB pertanian, tenaga kerja, inflasi, output, input dan investasi). 81 Analisis Perilaku Instabilitas, Pergerakan Harga, Employment dan Investasi di Dalam Sektor Pertanian Indonesia: Aplikasi Vektor Error Correction Model I.2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah: Pertama, dalam persepektif jangka panjang adalah untuk menganalisis dampak kebijakan yang berakibat kenaikan harga pertanian terhadap pertumbuhan, penyerapan kerja (employment) dan investasi di sektor pertanian. Kedua dalam jangka pendek (1) menganalisis sektor atau blok ekonomi yang menjadi sumber instabilitas utama bagi sektor pertanian Indonesia, (2) Menganalisis perilaku pergerakan harga output pertanian (inflasi) dan kausalitas antara harga output dan harga input, serta kausalitas antar harga-harga input penting. II. KERANGKA PEMIKIRAN II.1. Struktur Dasar Model Model di dalam penelitian mengadopsi model Sugema-In (model-SI). Ekonomi di dalam model mencakup dua negara, yakni ekonomi domestik dan ekonomi luar negeri. Masingmasing negara memperoduksi dua komoditas, komoditas pertanian (A) dan non-pertanian (N). Agen-agen ekonomi dibagi menjadi tiga group, konsumen, produser dan pemerintah. Input yang digunakan dalam produksi juga terdiri atas tiga komponen yakni tenaga kerja (L), modal (K), dan material (m). Ada empat pasar, yakni pasar komoditas, pasar input, pasar finansial dan pasar internasional (pasar ekspor). Konsumen diasumsikan memaksimumkan utilitas total waktu hidup mereka (total lifetime utility) dengan kendala keadaan anggaran mereka (budget constraint), sedangkan produser memaksimumkan arus kas bersih masa depan sampai horison waktu yang tak terbatas (infinite future net cash flow) dengan kendala biaya dari penyesuaian teknologi (adjustment of technology). Perilaku pemerintah dianggap ditentukan secara eksogen dalam arti bahwa perilaku tersebut bukan hasil dari perilaku optimasi secara eksplisit seperti halnya perilaku konsumen dan produser. Pemerintah bertanggung jawab atas kebijakan fiskal, pajak, upah, dan moneter, dimana kebijakan-kebijakan dalam model tersebut diperlakukan sebagai exogenous shock. Struktur ekonomi ditentukan oleh permintaan dan penawaran dari dua stok aset (asset stocks) dan empat variabel flow. Aset stok adalah uang dan equities (saham). Variabel flow adalah dua komoditas, saham-saham baru (new equities), investasi baru. Di Pasar komoditas baik konsumen dan produser adalah penerima harga. Konsumen bertindak sebagai pembeli dan produser bertindak sebagai penjual untuk komoditas-komoditas tersebut. 82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juni 2005 Di dalam pasar finansial produser dan pemerintah mengeluarkan dan membeli suratsurat berharga baru (new bonds). Tujuan mengeluarkan surat berharga (issuing new bonds) adalah untuk mendanai investasi-investasi baru dan defisit anggaran belanja pemerintah. Di pasar input, rumahtangga memiliki dan menjual tenaga kerja mereka sedangkan produser membeli jasa tenaga kerja tersebut. Tingkat upah ditentukan oleh penawaran dan permintaan di pasar; namun pemerintah dapat mempengaruhi pasar dengan mengatur kebijakan upah seperti tingkat upah minimum. Material dan input lain (m) diperlakukan sebagai barang antara (intermediate goods) sehingga baik rumahtangga dan produser dapat memiliki input tersebut. II.2. Perilaku Perusahaan Di dalam pasar komoditas ada dua produser yang menghasilkan dua komoditas berbeda. Pertama, adalah perusahaan pertanian (farm) yang menghasilkan komoditas pertanian. Kedua adalah perusahaan non pertanian. Kalkulasi dari produk nasional yang didasarkan pada metode nilai tambah (value added method) sehingga kontribusi dari masing-masing industri (pertanian dan non pertanian) terhadap produk final dapat dikalkulasi. Dua industri (produser) tersebut menggunakan tiga input didalam proses produksi mereka yakni; tenaga kerja (L), modal (C ), dan material (m). Material didefinisikan sebagai setiap barang (benda) yang digunakan dalam produksi selain tenaga kerja dan modal. Ia dapat berbentuk bahan baku (raw material) atau semi finished goods. Dimasukkannya material didalam fungsi produksi didasarkan dari teori makro ekonomi tradisional, dimana hanya ada dua input yakni modal dan tenaga kerja. Namun karena teori ekonomi mikro menyatakan bahwa input produksi tidak hanya modal dan tenaga kerja, maka input dalam fungsi produksi di perluas dengan memasukkan input lain. Sebagai contoh, petani menggunakan pupuk dan pestisida di dalam memproduksi komoditas pertanian. Di ketegorikannya input menjadi tiga (tenaga kerja, modal dan material) bukan dua (tenaga kerja dan modal saja), akan membantu mengliminasi kesalahan spesifikasi model. Perilaku perusahaan (firm) ditentukan oleh tujuannya yang memaksimisasi nilai sekarang dari keuntungannya (present value of the profit). Masing-masing industri ditunjukkan dengan satu fungsi keuntungan tunggal (one single profit function). Berdasarkan perilaku maksimisasi ini produser menentukan rencana produksi dan rencana penggunaan input produksinya pada kondisi harga output, harga input dan tingkat teknologi tertentu. Dengan demikian solusi (hasil) dari perilaku maksimisasi tidak hanya memberikan informasi tentang fungsi respon penawaran tetapi juga fungsi permintaan input seperti permintaan modal, permintaan tenaga kerja, dan permintaan material. 83 Analisis Perilaku Instabilitas, Pergerakan Harga, Employment dan Investasi di Dalam Sektor Pertanian Indonesia: Aplikasi Vektor Error Correction Model Produser mendapatkan input modal dari pasar aset (assets market). Harga dari modal merefleksikan tambahan keuntungan yang diharapkan (expected increment of profit) produser untuk satu satuan tambahan stok modal perusahaan. Ia juga menunjukkan klaim (claims) dari rumah tangga akan bagian yang mereka investasikan di perusahaan. Interpretasi harga modal ini adalah keterkaitan yang kritikal antara keputusan investor dan harga yang terbentuk di pasar akan klaim finansial. Perusahaan mendapatkan tenaga kerja dan mat

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom