Tafaqquh fî al-dîn dan Human resources pesantren
Author(s) -
Affan Affan
Publication year - 2016
Publication title -
islamuna jurnal studi islam
Language(s) - English
Resource type - Journals
ISSN - 2443-3535
DOI - 10.19105/islamuna.v3i2.1154
Subject(s) - computer science
Moslems‟ dynamics can be observed from many changes on them or changes that have been programmed in a process and system, it also happens in the Islamic boarding school. In these various changes of human civilization and era which always grow and develop, it needs an effort to make Moslems know the Islamic boarding school‟s situation as an educational institution, its human resources, whether it is about the leader of the Islamic boarding school (Kyai), teachers, students or the social Tafaqquh Fiddin dan Human Resources Pesantren Islamuna Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 238 appreciation to the boarding school. The society will also have feeling of possessing the Islamic boarding school if it can create some positive changes in the society. In one side, the Islamic boarding school should do an open cooperation with people outside who might not always in the same idea with them, in another side the Islamic boarding school is forced to find out their identity. Kata Kunci: Pesantren, Tafaqquh fi al-dîn, human resoursces, santri, kiai, masyarakat, pendidikan Islam. Pendahuluan Pesantren dikenal sebagai lembaga dan sistem pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dalam operasionalnya, pesantren memiliki nilai-nilai pokok yang tidak dimilik oleh lembaga lain, yaitu pertama, cara pandang kehidupan secara utuh (kaffah) sebagai ibadah; kedua, menuntut ilmu tidak berkesudahan (long life education) 1 yang kemudian diamalkannya. Ilmu dan ibadah menjadi identik baginya, yang dengan sendirinya akan muncul kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan, sebagai nilai utama (core values); dan ketiga, keikhlasan bekerja untuk tujuan-tujuan bersama (learning to do together with sincerity). Dengan modal itu, eksistensi serta keberadaan pesantren sangat kuat di mata masyarakat serta mendapat dukungan moral spritual yang luas. Pendidikan yang dikembangkan seperti ini, adalah tidak hanya berorientasi pada nilai akademik yang bersifat pemenuhan aspek kognitif, melainkan juga lebih berorientasi pada bagaimana seorang manusia bisa belajar dari lingkungannya -dalam istilah pendidikan modern learning to live together-, sehingga mereka bisa mengembangkan sikap kreatif dan daya berfikir imajinatif praktis. Itulah salah satu fungsi pesantren yang hingga kini masih menjadi kekuatan, inovasi, dan senantiasa memberi solusi terbaik dalam berbagai persoalan pendidikan di Indonesia. 2 1 Sebenarnya istilah long life education ini merupakan arti general dari hadits nabi Muhammad SAW. ”Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”. Lihat Ramayulis & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), 125. 2 Depag RI Dirjen Bagais, Direktori Pondok Pesantren 3, 2002. Tafaqquh Fiddin dan Human Resources Pesantren Islamuna Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 239 Pesantren Menghadapi Tantangan Dunia Modern Modernisasi kehidupan yang menyentuh semua aspek kehidupan akibat revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi meniscayakan semua pihak untuk meresponnya secara aktif dan kontekstual. Masalah-masalah kontemporer yang datang silih berganti menuntut partisipasi aktif pesantren untuk ikut memberikan kontribusi maksimal agar mampu memandu gerak dinamika sejarah dengan nilai-nilai sucinya. Seorang kiai atau santri dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan informasi dan melakukan revitalisasi tradisi intelektualnya untuk merumuskan jawabanjawaban sederhana aplikatif bagi aneka macam problem kontemporer tersebut. Disinilah letak relevansi dan aktualisasi pesantren di tengah modernisasi kehidupan. Kalau pesantren tidak mampu merespons masalah kontemporer dengan khazanah intelektualnya, maka krisis keilmuan pesantren akan berimbas pada krisis identitas diri pesantren dan bahkan santri dalam menatap masa depannya. Krisis identitas ini akan menurunkan kepercayaan diri santri dalam mengarungi masa depannya. Efeknya, semangat santri dalam mengkaji khazanah intelektual dan wacana kontemporer sebagai modal aktualisasi diri di tengah kehidupan sosial menjadi rendah. Inilah masalah serius yang harus segera ditanggulangi, karena kebutuhan akan lahirnya ulama masa depan yang berkualitas sangat mendesak supaya kehidupan modern tidak berjalan tanpa kontrol dan over action. Tantangan paling nyata pesantren sekarang adalah perang pemikiran (ghozwul fikri) menjadi gelanggang kontestasi pemikiran dari berbagai penjuru dunia. Dalam panggung kontestasi ini, diakui atau tidak kontribusi pesantren sangat minim, dan secara otomatis, realitas ini membawa proses marginalisasi pesantren. Pesantren ternyata tidak dapat berbuat banyak di tengah gelanggang pemikiran ini. Diantara sebabnya adalah rendah penguasan ilmu agama dan hilangnya pisau metodologi pemikiran kritis progresif. Menurut Abdul Munir Mulkhan (2004) kekayaan tradisi Islam sepertinya gagal dikembangkan dalam dialektika modernitas ketika mengalami ideologisasi. Tafaqquh Fiddin dan Human Resources Pesantren Islamuna Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 240 Pesantren -idealnyaharus proaktif merespons isu-isu kontemporer kalau ingin eksistesinya tetap up to date. Pertama, tiga kelemahan pesantren seperti yang disinyalir Malik Fajar (sentralisme kepemimpinan, dan disorientasi) harus segera dibenahi. Kepemimpinan (leadership) pesantren diusahakan lebih terbuka, demokratis dan profesional. Pengasuh tetap menjadi top leader, namun ia harus memberikan ruang kebebasan inovasi dan ekspresi untuk pembaharuan pesantren. Tentunya, inovasi ini tetap dalam kerangka tafaqquh fid din dan makârimul akhlâq. Kurikulum pesantren harus dinamis sehingga menjadi responsif progresif terhadap isu-isu kontemporer. Dalam jangka pendek, fungsionalisasi, optimalisasi, dan rasionalisasi ushûl dan qowâ’id fiqh menjadi sebuah keniscayaan. Dua landasan filsafat Islam ini yang oleh banyak pihak disebut sebagai mediasi antara ortodoksi dan rasio harus didayagunakan. Tidak sekedar menjadi penguat teks-teks (ibârât) yang ada dalam al-kutub al shafrâ’. Aura teologis yang ada dalam fiqh sedikit demi sedikit harus direduksi. Kalau ini sudah berjalan, seperti ushul fiqh muqôron (lintas madzhab), kemudian membaca metodologi Barat, orientalis, sebagai bahan dalam melakukan critics constructiveness of counter discourse (kritik konstruktif wacana tandingan) yang selama ini digembor-gemborkan. Kalau ini mampu direalisasikan, pesantren akan menjadi mata air yang tidak habis-habisnya dikaji karena kekayaan tradisinya yang begitu luar biasa hebatnya. Dalam melakukan semua itu pesantren harus menancapkan posisi, eksistensi, dan proyeksinya ke depan secara mantap, tidak terombang ambing oleh pihak lain. Pesantren harus dan senantiasa melakukan perubahan kurikulumnya. Apabila pesantren tidak mengikuti kemauan pasar, dalam waktu yang tidak lama akan kehilangan jati diri, orientasi hidup, dan fungsi strategisnya, dan akan mengalami disorientasi yang sudah menghinggapi hampir semua pesantren yang akan mulai kehilangan independensinya di tengah tantangan modernitas. Kedua, pesantren harus membangun maktabah (perpustakaan) yang dikelola secara profesional dan dilengkapi dengan literatur klasik dan kontemporer. Perpustakaan ini dapat dijadikan sebagai forum dinamisasi dan revitalisasi khazanah pesantren di tengah maraknya beragam pemikiran. Maktabah tersebut dapat digunakan untuk mengasah Tafaqquh Fiddin dan Human Resources Pesantren Islamuna Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 241 pisau analisis dengan optimalisasi kajian dari berbagai sisi untuk mencari formula baru bagi pengembangan al-kutub al-diniyah. Ketiga, pesantren sudah waktunya melakukan digitalisasi secara modern. Pesantren yang berbasis teknologi modern akan menjadi pusat kajian Islam, tidak hanya nasional, tapi juga internasional. Di tengah kecanggihan IPTEK sekarang, pesantren dituntut beradaptasi secara cepat, memanfaatkan teknologi untuk menunjang misi dakwahnya, dan selalu mencari terobosan kreatif antisipatif bagi dinamisasi dan aktualisasi. Membuat website pesantren merupakan salah satu kreasi yang patut dikembangkan. Pesantren tidak terkesan tradisional agraris, tapi modern yang bervisi global. Tiga langkah ini dalam rangka mempersiapkan lahirnya figur kiai yang berkualitas yang mampu memandu atau bahkan menjadi leader perubahan dunia yang –akhir-akhir inisudah materalistik, rasionalistik, dan hedonistik menuju tatanan kehidupan yang religius, progresif, dan humanistik. Memang pesantren mempunyai beban ganda. Menurut Abdul Djamil (2007), selain harus merespons setiap dinamika zaman, pesantren juga harus konsisten dengan identitas aslinya sebagai pertahanan terakhir moralitas masyarakat di tengah penetrasi globalisasi. Membumikan Tradisi Ke-ulama-an Pesantren Ciri khas yang paling mencolok dalam tradisi pesantren adalah keulamaan. Keulamaan memiliki jaringan turun temurun (meminjam istilah dalam ilmu hadits: mempunyai sanad:pen) baik secara ideologis maupun geneologis (yang bersifat pertalian darah), berkesinambungan (musalsal) untuk menentukan kualitas keilmuan seseorang. Hal ini pula yang membedakan tradisi keulamaan pesantren dengan -misalnyakeulamaan di lingkungan kampus, dan bahkan lembaga-lembaga pendidikan selain pesantren. Tradisi keulamaan pesantren seperti ini boleh dibilang melampaui batas eskatologi pengetahuan Islam, yang biasa disebut dengan ‘Ilm Jally dalam persepektif Ibnu Qoyyim Al-Jauzy. Hal ini cukup bisa dimaklumi, mengingat tingkatan eskatologi keulamaan (intelektual) pesantren, selain menekankan sisi faktualitas (berdasarkan kenyataan) pengetahuan, juga menyisipkan sisi intelektual. Dalam tradisi pesantren, orang yang pandai agama tidak bisa dengan serta merta disebut kiai atau ulama, kalau ilmunya tidak jelas sumbernya dari Tafaqquh Fiddin dan Human Resources Pesantren Islamuna Volume 3 Nomor 2 Desember 2016 242 mana. Kalau ditelusuri, rupa-rupanya hal ini sangat terpaut dengan prinsip pengajaran pesantren, bahwa “murid yang belajar tanpa dengan guru (meskipun ada kitab atau buku), maka gurunya adal
Accelerating Research
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom
Address
John Eccles HouseRobert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom