z-logo
open-access-imgOpen Access
Peningkatan Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang dengan Menggunakan Media Teka-Teki Silang
Author(s) -
Anggita Stovia,
Dian Bayu Firmansyah
Publication year - 2020
Publication title -
chi e journal of japanese learning and teaching
Language(s) - English
Resource type - Journals
eISSN - 2685-6662
pISSN - 2252-6250
DOI - 10.15294/chie.v8i2.37193
Subject(s) - vocabulary , class (philosophy) , test (biology) , vocabulary learning , mathematics education , english vocabulary , experimental research , control (management) , psychology , computer science , linguistics , artificial intelligence , paleontology , philosophy , biology
Vocabulary mastery is one of the most important in learning Japanese. Lack of mastery of vocabulary will make students look less active when teaching and learning activities take place. This study aims to determine the effectiveness of the crossword puzzle in increasing the mastery of Japanese vocabulary. This research is an experimental study with a Posttest-Only Control Group Design model. The data generated in this study are quantitative data obtained from the post test results in class A as an experimental class and class B as a control class. The results of data analysis showed that the mastery of vocabulary in the experimental class using crossword puzzles was higher than the control class using conventional media in the form of lecture activities using textbooks. Also, The atmosphere of learning by using crossword media is more exciting and fun. The results confirmed the average results of the vocabulary test scores in the experimental class at 85.87, while in the control class at 74.8. © 2020 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Gedung B4 Lantai 2 FBS Unnes Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: chie@unnes.ac.id E-ISSN 2685-6662 P-ISSN 2252-6250 Anggita Stovia, Dian Bayu Firmansyah/ CHIE: Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Vol.8 (2) (2020) 78 PENDAHULUAN Kosakata menurut Soepardjo (2012:86) merupakan keseluruhan kata yang digunakan dalam ruang lingkup tertentu, mulai dari bangsa atau suku bangsa, sampai pada penggunaan bahasa oleh perorangan atau dalam karya sastra. Menurut Hayashi (1990:342), 「語彙は語の集合であると言われる。 伝統的に、ある言語を習得する場合には、そ の言語の単語と文法と身つければならない、 といわれてきた。」 “Goi wa go no shuugoudearu toiwareru. Dentoutekini, aru gengo wo shuutokusurubaai niwa, sono gengo no tango to mitsukerebanaranai, toiwaretekita.” ‘Kosakata yaitu kumpulan kata. Secara tradisional untuk mempelajari suatu bahasa, tidak bisa terlepas oleh bahasa dan kosakata’. Penguasaan kosakata memiliki peranan yang sangat vital dalam mempelajari bahasa Asing, karena sangat berpengaruh langsung pada kemampuan seseorang ketika berkomunikasi menggunakan bahasa asing (Wardani, 2015; Haristiani dkk, 2015). Semakin banyak kosakata yang dimiliki akan semakin mudah dan lancar dalam menggunakan bahasa Jepang dengan baik. Selaras dengan hal tersebut, Tarigan (2008:2) mengatakan bahwa kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung kepada kuantitas dan kualitas kosakata yang dimilikinya. Penguasaan kosakata juga sangat berkaitan dengan tingkat penguasaan empat keterampilan berbahasa, sehingga diperlukan sebuah upaya agar proses pemerolehan kosakata tersebut dapat terintegrasi dengan baik dalam proses belajar dan mengajar yang dilakukan (Dwiaryanti, 2014). Salah satu kendala yang sering ditemui dalam pembelajaran bahasa asing adalah, pembelajar tidak dapat mengutarakan ide serta pemikirannya dengan baik, karena adanya keterbatasan dari segi penguasaan kosakata (Basri, dkk, 2014). Hal ini tentunya sangat menghambat proses pemerolehan bahasa yang sedang dilakukan. Bahkan dalam penggunaan bahasa asing di kehidupan nyata seperti pengoperasian komputer berbahasa asing dan lain-lain, jumlah kosakata yang dikuasai memiliki pengaruh yang cukup signifikan, karena dapat membantu untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman persepsi dari pengguna (Pradhana & Latifah, 2013). Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi belajar-mengajar kosakata yang dapat menunjang peningkatan keterampilan berbahasa pembelajar dalam berkomunikasi dan menggunakan bahasa asing tersebut dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat meningkatkan prestasi belajar dari pembelajar bahasa asing itu sendiri (Basri, dkk, 2014; Pradhana & Latifah, 2013). Dalam penguasaan kosakata bahasa Jepang, tantangan bagi pembelajar untuk menguasai kosakata yang digunakan sehari-hari semakin besar. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan sistem bunyi dan lambang yang sangat kompleks dalam bahasa Jepang (Okuyama, 2007; Haristiani, dkk, 2015). Perbedaan tersebut terlihat dari 4 (empat) buah jenis huruf yang digunakan secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Hiragana, Katakana, Kanji dan Romaji Perbedaan sistem ini tentu saja menjadi salah satu kendala dalam proses penguasaan bahasa Jepang, karena jumlah hurufnya yang banyak dan rumit, sehingga sering dikeluhkan oleh pembelajar bahasa Jepang (Firmansyah & Rahmawati, 2018). Untuk mengatasi kesulitan tersebut beberapa peneliti telah mengembangkan beberapa metode maupun model pembelajaran kosakata bahasa Jepang, seperti Penelitian yang dilakukan Cicik Hariati Rusni (2016) dengan judul “Pengaruh Media Kotoba Gazou (Gambar Kosakata) Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Siswa Kelas XI MIA 1 SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik” Dalam penelitian ini kosakata divisualkan melalui gambar-gambar dan diharapkan siswa dapat lebih mudah mengingatnya. Penelitian berikutnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Willy Kusuma (2017) dengan judul “Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Kartu Huruf Jepang pada Pelajaran Bahasa Jepang terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Siswa Kelas X Sma Negeri 4 Magelang”. Kosakata dituliskan di kartu-kartu dengan menggunakan huruf Jepang. Hampir serupa dengan dua penelitian di atas Anggita Stovia, Dian Bayu Firmansyah/ CHIE: Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Vol.8 (2) (2020) 79 penelitian yang dilakukan oleh Intan Permata Sari (2017) dengan judul “Pengaruh Media Gambar Terhadap Penguasaan Kosakata Bahasa Jepang Pada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Tahun Angkatan 2016”. Penelitian ini membandingkan dengan pembelajaran menggunakan metode konvensional. Media kotoba gazou (gambar kosakata) dan media kartu huruf Jepang berbeda dengan media Teka-Teki Silang (TTS) karena media Teka-Teki Silang (TTS) lebih banyak menyajikan kosakata dari kosakata yang telah dipelajari (pengulangan) dan kosakata yang baru diperoleh yang mungkin akan terbatas pada penggunaan media pembelajaran lainnya. Selain itu, kosakata pada media Teka-Teki Silang (TTS) juga dapat dikelompokan sesuai kelas kata (seperti kata kerja (joshi), kata sifat (i-keiyoshi,na-keiyoshi), kata benda (meishi), keterangan tempat, dan lainlain), sinonim-antonim, sesuai topik, dan lain sebagainya. Metode pembelajaran yang digunakan di Program Studi Sastra Jepang Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) saat ini untuk memperkenalkan kosakata baru sebelum dilakukannya penelitian yaitu dengan metode konvensional yakni dengan ceramah. Pengenalan kosakata baru dibebankan pada mata kuliah Mendengarkan (Choukai). Dari hasil observasi terhadap mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya UNSOED, mahasiswa belum mampu menguasai kosakata terutama kosakata baru yang akan muncul dalam beberapa mata kuliah utama yang berkaitan yaitu seperti pada mata kuliah Mendengarkan (Choukai), Tata Bahasa (Bunpou), Menulis (Hyouki), Memahami (Dokkai), dan Berbicara (Kaiwa). Kurangnya penguasaan kosakata tersebut yang membuat mahasiswa terlihat kurang aktif pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Berdasarkan data dari hasil wawancara dengan perwakilan mahasiswa dengan kriteria mahasiswa yang pintar, berkemampuan sedang, dan berkemampuan rendah menyatakan bahwa memang benar mahasiswa mengalami kesulitan dalam penguasaan kosakata terutama pada saat proses pembelajaran. Faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar yang baik adalah penggunaan media pembelajaran yang baik pula. Menurut Sadiman (2002:16) media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Salah satu media pembelajaran yang sangat menarik, dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, bahkan minat mahasiswa adalah Teka-Teki Silang (TTS). Selain itu juga, kosakata yang akan diberikan lebih luas cakupannya serta terbagi menjadi kelompok-kelompok khusus. Memanfaatkan hal tersebut, pembelajaran dan penghafalan kosakata dapat dibuat menjadi lebih menyenangkan dengan mengubahnya ke dalam bentuk permainan kata atau Teka-Teki Silang (TTS). METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. Model penelitian yang digunakan yaitu model rancangan Posttest-Only Control Design dengan jumlah responden sebanyak 60 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester III angkatan 2018 Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Jurusan Bahasa dan Sastra Asia Timur Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Kelas A sebagai kelas eksperimen berjumlah 30 mahasiswa dan kelas B sebagai kelas kontrol berjumlah 30 mahasiswa. Pemilihan dilakukan secara random untuk menentukan kelas A sebagai kelas eksperimen dan kelas B sebagai kelas kontrol dimana di setiap kelas terdapat mahasiswa dengan kemampuan berbahasa Jepang tinggi, menengah, dan rendah. Beberapa mahasiswa angkatan 2018 ini ada yang sudah lulus JLPT Level 3, level 4, dan level 5 paling rendah. Media Teka-Teki Silang (TTS) yang digunakan diambil dari buku “100+ Nihongo No Kurosuwaado Pazuru”. Peneliti menyesuaikan kosakata yang terdapat di dalam Teki-Teki Silang (TTS) sehingga sesuai dengan alur materi Anggita Stovia, Dian Bayu Firmansyah/ CHIE: Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang Vol.8 (2) (2020) 80 kosakata baru yang harus diterima dan kosakata lama pun akan diulang kembali. Media TekaTeki Silang ini akan diberikan di tujuh kali pertemuan, dengan satu pertemuan untuk mahasiswa mencari jawaban, dan dipertemuan berikutnya untuk membahas hasil jawaban. Total pertemuan adalah 14 kali atau satu semester, hal tersebut dikarenakan penyampaian kosakata baru di Program Studi S-1 Sastra Jepang Jurusan Bahasa dan Sastra Asia Timur Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman ini dibebankan pada mata kuliah choukai sehingga berjalan bersamaan dengan materi choukai atau mendengarkan. Data diperoleh melalui tes kosakata. Tes kosakata digunakan

The content you want is available to Zendy users.

Already have an account? Click here to sign in.
Having issues? You can contact us here
Accelerating Research

Address

John Eccles House
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom