Pandangan Dunia Humanisme Teosentris dalam Novel Kantring Genjer-Genjer Karya Teguh Winarsho
Stilistika Jurnal Bahasa Sastra Dan PengajarannyaPeer ReviewedBadarudin Safe’i +12020Journals
This study takes the material object of the Kantring Genjer-Genjer by Teguh Winarsho. This study aims to determine the world view (vision du monde) of the author expressed in the Kantring Genjer-Genjer. Meanwhile, the literary theory used in this study is the theory of Genetic Structuralism. This literary theory was developed by Lucien Goldmann. According to this theory, the structure of literary works with social structures is considered to have a relationship, but the relationship is not directly but mediated by worldview. In other words, the worldview becomes the link between the structure of literary works and the social structure of the author. The method used is the dialectical method. This method works by understanding back and forth between worldview, text structure, and the social structure of the author. Keyword: kantring genjer-genjer, genetic structuralism, theocratic humanism 22 Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya ISSN 2527-4104 Vol.5 No.1, April 2020 Pandangan Dunia Humanisme Teosentris dalam Novel Kantring Genjer-Genjer Karya Teguh Winarsho PENDAHULUAN Sastrawan sebagai pencipta karya sastra juga merupakan anggota dari suatu masyarakat. Ia hidup dan berinteraksi dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Hal ini menjadikan adanya hubungan yang kuat antara sastrawan dengan masyarakatnya (Sumardjo, 1982:15). Melalui karya sastra yang diciptakan, seorang sastrawan ingin menampilkan gambaran yang jelas tentang kehidupan. Kehidupan sebagai kenyataan sosial mencakup hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dengan orang perorang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dalam batin seseorang—yang seringkali dijadikan bahan sastra— adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau masyarakat (Damono,1978:1). Persoalan sosial yang ada dalam masyarakat seringkali tercermin dalam karya seni yang tercipta termasuk di dalamnya seni sastra. Apabila pengarang memiliki kepekaan yang tinggi, pastilah karya sastranya akan mencerminkan kritik sosial yang ada dalam masyarakat tersebut, meskipun dimunculkan secara tersirat (Damono, 1983:22). Pendapat Damono tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa munculnya sastrawan ke permukaan juga tidak terlepas dari karya sastra yang diciptakannya. Seberapa jauh karya-karyanya memiliki keunggulan di antara karya-karya sastrawan yang lain dan seberapa tinggi tanggapan para pembaca, kritikus sastra, dan peneliti sastra. Adakah karya-karyanya mampu membeberkan sesuatu yang berbeda tentang kehidupan sehingga menarik untuk dijadikan objek studi sastra atau objek kajian dalam berbagai forum sastra. Novel Kantring Genjer-Genjer dengan label Dari Kitab Kuning Sampai Komunis adalah novel karya Teguh Winarsho yang berkisah tentang dua pertentangan kaum abangan dan kaum santri. Kaum abangan adalah masyarakat yang menekankan aspek-aspek animisme atau kepercayaan terhadap adanya makhluk halus yang dapat mempengaruhi hidup manusia (Geertz, 1981:6). Sementara itu, kalangan santri diidentikkan dengan kelompok yang melaksanakan doktrindoktrin Islam yang lebih murni bukan saja pada tata cara pokok peribadatannya, namun juga dalam keseluruhan yang kompleks dari organisasi sosial (Geertz, 1981:7). Masyarakat yang digambarkan dalam novel KKG adalah masyarakat yang sangat dekat dengan Teguh Winarsho. Selain itu, Teguh Winarsho dalam KGG juga mengusung nilai-nilai otentik sebagai pandangan dunia yang diperjuangkan kelompok sosial kaum santri yang Teguh Winarsho juga merupakan bagian di dalam kelompok sosial tersebut. 23 Safe'i, B. dan Mustaghfiroh, S./STILISTIKA, Vol.5 (1), 2020: 22-31 Pandangan Dunia Humanisme Teosentris dalam Novel Kantring Genjer-Genjer Karya Teguh Winarsho METODE Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian kepustakaan. Data primer penelitian adalah novel KGG karya Teguh Winarsho. Sementara itu, data sekunder adalah bahan-bahan kepustakaan yang memiliki relevansi dan bersifat menunjang penelitian. Penelitian ini menggunakan teori sastra sosiologi sastra strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Sementara metode yang digunakan adalah metode dialektik. Metode ini merupakan metode yang khas dari teori strukturalisme genetik. Dari segi titik awal dan titik akhir, metode dialektik sama dengan metode positivistik. Keduanya sama-sama bermula dan berakhir pada teks sastra. Hanya saja, metode posistivistik tidak mempertimbangkan persoalan koherensi struktural, sedangkan metode dialektik justru memperhitungkannya (Goldmann, 1977: 8). Metode dialektik mengukuhkan pandangan bahwa tidak ada titik awal yang mutlak, tidak ada persoalan yang secara mutlak dan pasti terpecahkan karena dalam sudut pandang tersebut pikiran tidak pernah bergerak seperti gerak lurus. Setiap fakta atau gagasan individual mempunyai arti hanya jika ditempatkan dalam keseluruhan. Sebaliknya, keseluruhan dapat dipahami dengan pengetahuan yang bertambah mengenai fakta-fakta parsial yang membangun keseluruhan itu. Karena keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan, proses pencapaian pengetahuan dengan metode dialektik menjadi semacam gerak yang melingkar terus-menerus, tanpa diketahui tempat atau titik yang menjadi pangkal ujungnya (Faruk, 2010: 77-78). Metode dialektik bekerja dengan pemahaman bolak-balik, antara struktur teks, pandangan dunia, dan struktur sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Pandangan Dunia Humanisme Teosentris Dalam Struktur Sosial Pengarang Humanisme teosentris merupakan sebuah gagasan kemanusiaan yang berpedoman kepada ajaran-ajaran agama (Tuhan). Dalam terminologi humanisme teosentris, terdapat istilah teosentris yang membedakan gagasan ini dengan gagasan humanisme universal. Teosentris dalam etimologinya berasal dari bahasa Yunani, yakni Theo (Tuhan) dan centris (pusat), sehingga teosentris dapat dimaknai sebagai sebuah pandangan yang menilai bahwa Tuhan adalah pusat atau sumber tertinggi dari semua ajaran moral dan etika. Konsep humanisme teosentris muncul sebagai upaya untuk menyatukan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Keyakinan tentang Tuhan (ajaran agama) mempengaruhi watak dan persepsi manusia yang selanjutnya menentukan kedudukan dirinya, prioritas kebutuhan dan pembentukan 24 Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya ISSN 2527-4104 Vol.5 No.1, April 2020 Pandangan Dunia Humanisme Teosentris dalam Novel Kantring Genjer-Genjer Karya Teguh Winarsho kaidah hubungan dengan manusia lainnya. Agama bukan hanya sistem kepercayaan yang tidak berubah tetapi juga nilai yang berorientasi kemanusiaan. Oleh karena setiap manusia terlahir dalam fitrah, maka semua agama memiliki misi menjaga nilai kefitrahan yang dimilikinya dan menuju kebahagiaan abadi. Dengan kata lain, humanisme teosentris adalah keyakinan dalam aksi, pengakuan bahwa Tuhan adalah pusat orientasi sejak awal kehidupan manusia. Orientasi ketuhanan tersebut harus hidup dalam jiwa dan kehidupan manusia, seperti dalam tradisi, adat-istiadat dan tata krama. Inilah yang membedakan konsep humanisme teosentris (humanisme berdasarkan agama) dengan humanisme sekuler (Mustofa, 2011:12). Humanisme teosentris memandang bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dikembalikan kepada Tuhan, inilah esensi dari azas-azas tauhid yang diajarkan di dalam Islam. Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa gagasan humanisme teosentris berbeda dengan gagasan humanisme klasik. Walaupun kedua pandangan tersebut sama-sama meletakkan manusia sebagai unsur “teratas” dalam rantai kehidupan di dunia tetapi penambahan “teosentris” memberikan sifat lain di dalam kerangka humanisme, yaitu keyakinan yang lebih mendalam terhadap Tuhan dan manusia sebagai makhluk Tuhan (Achmadi, 2005:20). Gagasan humanisme teosentris dalam Islam secara garis besar menempatkan sisi manusiawi sesuai kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Secara kodrati, ada tiga hal yang menjadi pokok pemikiran di dalam humanisme Islam (humanisme teosentris), yakni 1). Manusia sebagai hamba Tuhan, hal ini akan berkaitan dengan dengan tanggung jawab manusia di dunia sebagai khalifah (wakil Tuhan), peran dan fungsinya dalam menciptakan harmonisasi kehidupan di dunia. 2) Manusia sebagai makhluk yang berfikir dan berilmu; dan 3). Manusia sebagai makhluk yang beradab, yang menjunjung nilai-nilai moral (akhlak) (Achmadi, 2005:27). Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan (Raharjo, 1985: viii) dan memiliki hubungan erat dengan Teguh Winarsho sebagai pengarang novel KGG tidak berlebihan jika dikatakan sebagai lembaga pendidikan yang juga mengedepankan pandangan dunia humanisme teosentris. Hal ini karena pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari (Mastuhu, 1994: 32). Adapun tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmad kepada masyarakat dengan jadi kawulo atau abdi masyarakat, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad SAW (mengikuti sunah 25 Safe'i, B. dan Mustaghfiroh, S./STILISTIKA, Vol.5 (1), 2020: 22-31 Pandangan Dunia Humanisme Teosentris dalam Novel Kantring Genjer-Genjer Karya Teguh Winarsho Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam serta kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian, pengembangan kepribadian yang ingin dituju ialah kepribadian muhsin (orang yang baik dan berakhlak mulia) bukan sekedar muslim (Khamdan, 2010: 19). Dalam dunia pesantren, masalah pendidikan akhlak (moral) sangat penting sehingga dalam praktik pengajarannya menggunakan tiga pola sekaligus. Pertama, materi ini diajarkan secara hidden atau tersembunyi yang hampir dijumpai pada s
The content you want is available to Zendy users.
Already have an account? Sign inHaving issues? Contact support