Analisis Kelimpahan dan Identifikasi Predator Abalon (Haliotis squamata) di Pantai Geger, Nusa Dua, Bali
Author(s) -
Jefry Cristian Bulan,
I Gede Hendrawan,
Ni Luh Putu Ria Puspitha
Publication year - 2020
Publication title -
journal of marine research and technology
Language(s) - Italian
Resource type - Journals
eISSN - 2621-0096
pISSN - 2621-0088
DOI - 10.24843/jmrt.2020.v03.i01.p01
Subject(s) - predator , biology , physics , fishery , ecology , predation
Abalon adalah moluska yang dapat hidup diseluruh perairan laut dunia. Abalon dapat ditemukan pada perairan dangkal hingga perairan dalam hingga mencapai kedalaman 90 m (Setyono, 2010). Abalon memiliki sekitar 100 spesies di dunia, 7 spesies diantaranya berada di perairan Indonesia antara lain Haliotis asnina, Haliotis varia, Haliotis squamata, Haliotis ovina, Haliotis glabra, Haliotis planate dan Haliotis crebrisculpta (Setyono, 2010). Habitat alami abalon terdapat pada daerah perairan yang berbatu serta bersembunyi di celahcelah karang dan lubang berbatu. Daerah persebaran abalon di dunia dapat ditemukan disepanjang perairan barat Amerika Utara, pantai bagian timur dan selatan Asia, Samudra Pasifik termasuk Australia dan New Zealand, Afrika dan Eropa (Setyono, 2009). Di Indonesia, abalon tersebar pada perairan Indonesia Timur termasuk di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua. Berbagai daerah lainnya juga merupakan daerah persebaran abalon diantaranya Kepulauan Seribu, Madura, Sumbawa, Flores, Lombok dan Bali, dan merupakan daerah tangkapan abalon (Setyono, 2010). Di Bali sendiri abalon telah dibudidayakan, salah satunya yaitu pada wilayah perairan Pantai Geger. Pantai Geger sendiri merupakan salah satu daerah pesisir pantai di Bali. Pantai ini terletak di Desa Adat Peminge, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung (Artadana, 2017). Penelitian mengenai abalon sebelumnya telah dilakukan oleh Hayati (2017) di Pantai Geger Nusa Dua Bali. Hasil dari penelitian budidaya abalon tersebut menunjukkan bahwa tingkat kelulusan hidup abalon mencapai 83,3%-97,5%. Faktor penyebab tingkat kelulusan hidup tidak mencapai 100% diduga karena faktor adanya predator. Faturrahman et al. (2015) menyatakan bahwa sesuai dengan tipe habitatnya, setiap jenis abalon akan terancam dengan predator yang berbeda-beda. Abalon yang masih muda yang menempati perairan dangkal biasanya akan diserang oleh predator dari jenis-jenis siput karnivora, kepiting, gurita dan jenis ikan karang seperti kerapu, sedangkan untuk jenis kerang abalon dewasa biasanya dimakan oleh predator dari jenis karnivora (kerapu, kakap, pari), udang karang (lobster), morey eel dan bintang laut. Predator abalon tersebut memiliki kebiasaan makan pada waktu berbeda-beda sehingga pemangsaan bisa terjadi pada pagi, siang ataupun malam hari. Perbedaan tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya pasang surut pada daerah pesisir. Pertumbuhan biota laut di daerah pasang surut sangat tinggi, hal tersebut dapat disebabkan karena daerah ini merupakan tempat hidup, tempat berlindung, dan tempat mencari makan. Selain itu, kondisi lingkungan pada daerah ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan biota laut karena adanya dukungan dari faktor fisika, kimia, dan biolog laut (Rumahlatu et al., 2008). Selain hal tersebut, Riyanto et al. (2016) menyatakan bahwa pola migrasi ikan karang yang mayoritas merupakan predator abalon bergerak mengikuti arah pasang surut. Pada saat pasang, ikan lebih cenderung berenang ke arah pantai mengikuti arus dan pada saat surut ikan lebih cenderung berenang mengikuti arus menjauhi pantai. Hal tersebutlah yang menjadikan kecendrungan ikan berada lebih banyak di daerah ART I C LE I NFO ABST R ACT
Accelerating Research
Robert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom
Address
John Eccles HouseRobert Robinson Avenue,
Oxford Science Park, Oxford
OX4 4GP, United Kingdom